Bismillahirrohmanirrohim..
Kali ini aku ingin bercerita tentang kampung halamanku tercinta, yaitu Daik Lingga. Daik adalah sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Lingga provinsi Kepulauan Riau.
Langsung aja, pertama adalah peta Daik itu sendiri..

Jadi, karena aku sekarang di Bandung, maka jika pulang maka aku biasanya melewati rute sebagai berikut : Bandung-(Pesawat/Kapal Laut)-Batam-(Fery)-Tanjung Pinang-(Fery/Speed Boat)-Daik.
Jika kita pertama menginjakkan kaki di pelabuhan Daik, maka kita bisa melihat gunung Daik yang bercabang 3.

O y, cerita tentang ekspedisi pendakian gunung Daik ini bisa dilihat disini.
Selanjutnya setelah sampai di Daik, aku ingin sedikit memberi gambaran sejarah Daik ini, dan peninggalan apa aja yang terdapat di sini. Berikut yang dikutip dari situs riau.go.id
Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)
Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau.
Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui jalan darat ke desa Resun di sungai Resun. Dari sana melalui sungai itu terus ke muara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga, berseberangan dengan Senayang.
Selama seratus tahun Daik menjadi pusat kerajaan, tentulah terdapat berbagai peninggalan sejarah dan sebagainya. Raja-raja kerajaan Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di Daik Lingga yaitu : Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857), Sultan Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883) dan Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1883-1911).
Mesjid Jamik Daik

Mesjid Jamik terletak di kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812) pada masa awal beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber tempatan menyebutkan bahwa bangunan mesjid ini dimulai sekitar tahun 1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya terbuat dari kayu. Kemudian setelah Mesjid Penyengat selesai dibangun, maka bangunan Mesjid Jamik ini dirombak dan dibangun lagi dari beton.
Mesjid ini di dalam ruang utamanya tidaklah mempergunakan tiang penyangga kubah atau lotengnya. Pada mimbarnya terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), berisi : “Muhammad SAW. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.” Tulisan ini memberi petunjuk, bahwa mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukan motif-motif ukiran tradisional Melayu.
Bekas Istana Damnah

Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam hutan belantara yang disebut kampung Damnah.
Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899). Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya Sultan ini di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.
Gedung Bilik 44

Yang disebut gedung bilik 44 adalah pondasi gedung yang akan dibangun oleh Sultan Mahmud Muzafar Syah. Gedung ini baru dikerjakan pondasinya saja karena Sultan keburu dipecat Belanda tahun 1812. Lokasinya terletak di lereng gunung Daik.
Walaupun gedung ini belum sempat berdiri, tetapi dari pondasinya yang berjumlah 44 itu sudah dapat kita bayangkan betapa besarnya minat Sultan Mahmud untuk membangun negerinya. Di gedung ini, menurut rencana Sultan akan ditempatkan para pengrajin yang ada di kerajaan Riau-Lingga, supaya mereka dapat bekerja lebih tenang serta mengembangkan keahliannya. Namun cita-cita Sultan Mahmud terkandas oleh penjajah asing.
Kubu Pertahanan

Daik sebagai pusat kerajaan Riau-Lingga tentulah memerlukan pengawalan ketat. Perairan selat Malaka yang masa silam selalu ramai dengan desingan peluru dan asap mesiu. Untuk menjaga berbagai kemungkinan dalam pertempuran, di Daik Lingga dan sekitarnya didirikan kubu-kubu yang kokoh dengan persenjataan lengkap menurut keadaan zamannya, yang terdapat di pulau Mepar, Kubu Bukit Ceneng dan Kubu Kuala Daik.
Makam Bukit Cengkeh

Di Bukit Cengkeh, Daik, terdapat kompleks makam raja-raja Riau-Lingga. Bangunan ini dulunya amat indah, bentuknya segi delapan dengan kubah bergaya arsitektur Turki. Kini makam ini sudah runtuh, yang tersisa hanya sebagian dindingnya dan pagar beton kelilingnya. Di kompleks makam ini terdapat pusara : Sultan Abdurrakhman Syah (1812-1832), beberapa anggota keluarga kerajaan Riau-Lingga. Makam ini tidaklah sulit dicapai karena terletak di pinggir jalan raya, di atas Bukit Cengkeh yang indah pemandangannya.
Makam Merah

Disebut makam merah karena warna cat bangunannya merah, tiangnya terbuat dari besi, pagarnya dari besi dan atapnya seng tebal. Makam ini tidak berdinding dan atapnya berbentuk segi empat melingkari makam. Makam ini letaknya tidaklah berapa jauh dari bekas istana Damnah.
Makam ini terkenal bukanlah karena bangunan makamnya, tetapi karena yang dimakamkan disini adalah Raja Muhammad Yusuf Yang Dipertuan Muda Riau X.
Rumah Datuk Laksemana Daik
Bangunan tua ini terletak di kampung Bugis, berbentuk limas penuh. Rumah ini selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik,pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya pulau Mepar, karena beliau ini menantu Datuk Laksemana. Rumah ini masih agak baik dan ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik.
Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk Kaya, seperti : beberapa jenis pakatan kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, benda-benda upacara adat, motifmotif tenunan, batik, ukiran-ukiran dan sebagainya.
Yang di atas itu adalah Daik dari sisi sejarah, selanjutnya adalah bagian budaya, wisata alam, dan sebaginya.
Ini adalah semacam pentas seni yang menampilkan cerita-cerita zaman kesultanan dahulu kala yang pernah ada di Daik Lingga.

Zapin adalah salah satu tarian khas melayu.

Malam Tujuh Likur (Malam Ke-27 Bulan Ramadhan)
Biasanya masyarakat setempat Kabupaten Lingga merayakan malam itu dengan menyalakan lampu minyak dan membuat pintu gerbang yang indah di setiap desa.

Karena laut di daerah ini masih terjaga dari kerusakan, maka masih banyak ikan besar yang hidup di sana. Dinas pariwisata setempat pun beberapa kali mengadakan kegiatan lomba mancing di perairan Penaah.
Pantai Dungun di Daik

Pantai ini terletak di desa Teluk Kecamatan Lingga Utara. Di pantai inilah terdapat satwa laut langka yang ditemukan masyarakat terdampar mati pada tanggal 13 Januari 2005. Masyarakat tempatan (lokal) menamainya GAJAH MINA, namun nama ilmiahnya sedang dalam proses identifikasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Seluruh tulang belulang satwa laut ini dikumpulkan oleh keluarga Bapak Umar Sanen (Pak Cenot) yang kemudian diserahkan ke Museum Mini Linggam Cahaya pada tanggal 6 Januari 2006. Data dasar:
- PANJANG PANGKAL EKOR–KEPALA: 12.40 METER
- PANJANG PANGKAL EKOR–UJUNG EKOR: 1.80 METER
- PANJANG GADING/TARING: 2.40 METER
- TEBAL KULIT: 10 CM
- PANJANG SIRIP (BAWAH): 78 CM
- LEBAR SIRIP (BAWAH): 47 CM

Adalah tempat pemandian putri Diraja Sultan Mahmud Muhazam Syah, Engku Embong Fatimah istri Yamtuan Muda Muhammad Yusuf Bunda dari Sultan Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman Mu’ahan Syah Sultan Lingga yang ke 6 dan istrinya Engku Ampuan Zahara.
Hmm.. sebenarnya banyak lagi yang ingin aku tulis di sini, cuma karena uda mau maghrib, jadi istirahat dulu ah..
“aku biasanya melewati rute sebagai berikut : Bandung-(Pesawat/Kapal Laut)-Batam-(Fery)-Tanjung Pinang-(Fery/Speed Boat)-Daik.”
Klo aku pulang,, rutenya Bandung-Jakarta (via travel Baraya hanya Rp.45.000,, 2-3 jam nyampe rumah). simpel kan???
huahahahahaha…….
aq jg
Bandung-Kutoarjo
bayar : Rp 21.000,00
perjalanan emang 8 jam
tapi bawa uang 50rb dah bisa PP
hihihi..jadi pengen lagi nari melayu,,hwahwahwa…(macem masih punye bakaaat aje..ck ck ck)
gitu kek bro,,,dari lama2 minta ditunjukin daeknya, tak gerak2..
begini kan enak,,
bise2, jadilah turis bali minggat semue kat daek sane…ye tak? hehehe
eiia, kemarin bibi kami cerite tentang daek, kate gunung daek tak lagi cabang tige, ape benar macam tu bang?
sekali2, ceritekan lah pule macem mane legenda gunung bercabang tige tu (yang sebenarnye kami lenih suke katakannye gunung “kepale” tige..hehehe)
biarlah mengenang legenda tu cam mane…
ok ok..
ditunggu..
hihihi
wah…menariknya..
saudara tahu ke tentang panglima besar reteh tengku sulung atau saudara ada silah keturunan dia..
leh kongsikan maklumat tak
saya kat malaysia, nak tahu tentang dia..
mungkin silah keturunan saya juga..
atau siapax yang tahu boleh tolong maklumkan kat email saya..
e_kang51@yahoo.com.my
Asw.
Selalu teringat ketiga bernostalgia di gunung daek, tempat penuh mistik
n satu aja pesan untuk semua yang mau berkunjung ke gunung daek, minta izin dulu ama mpu nya.
saya sebagai salah satu keturunan dari kerajaan gunung daek bercabang tiga cuma mengingatkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena suasana mistiknya masih kental banget
Ass.wr.wb.
Salam Kenal…….
Mohon info apakah anda tinggal disana?
wa’alaykumsalam iya, saya tinggal di sana, cuma sekarang lagi merantau menuntut ilmu di bandung
pak cik knape pulak ade foto mesjid azzulfa dabok, itukan mesjid raye dabok bukan mesjid sultan daek….. koreksi pakcik supaye luros sejarah….
oh ye, kebetulan saye ambil dari situs pemkab, jadi mintak maaplah, nanti saye betulkan.. terime kaseh..
aku terpaut untuk pergi ke daik….
ASSALAMUaLAIKuMMM…..
ThanKz YuA k”… TAS infoRm yg dHa d sNe… Sty jdi mDah TuK ngBUat tGAs tntaNg seJarah Daik… ^_^
saye dl prnah tnggl d daek slm 1thn,d rmh abang atan.sye rsnya ingin blek lgi ksne.daek emang best is the best
wlau pn aq bkn org daek,,,
pi aq ska dgn sjrah2 daek
Ass.wr.wb. Salam kenal…
Saya pernah berkunjung ke tanah Daek Lingga (bunda tanah melayu), demikian juga P. Penyengat dengan keagungan masjid Sultan Riaunya…masih indah pemandanganya dan udaranya pun masih segar. Disaat perjalanan terfikir oleh saya..tentang gambar sosok para leluhur tanah melayu, riwayat hidupnya, sehingga timbul keinginan untuk memandangnya, syukur bisa menjadi suri tauladan kita.
Tetapi sungguh amat sedih..ternyata sampai saat inipun belum juga mendapatkannya. Kalau tidak keberatan dan berkenan memberi info; dimanakah saya dapat melihat gambar/foto beliau2, termasuk salah satu foto dan riwayat tentang istri Sultan yg bermakam di pulau penyengat ‘engku utri Hamidah’.
terimakasih
gunung daek bercabang tige
patah satu,tinngal due.
sebab nye kerna yg patah dia sambar petir.
@ diana
iya gitu?
*yg benner yang mana ya*