Ahli Sunnah Wal Jama’ah

Assalamualaikum ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du

Istilah Ahlussunnah wal jamaah pada hari ini memang sering kali dipahami dengan cara yang kurang tepat oleh sebagian umat Islam. Padahal istilah Ahlussunnah wal jamaah adalah istilah yang telah disebutkan sejak masa Rasulullah SAW sebagai golongan yang selamat dalam aqidahnya. Sebagaimana kita dapatkan dalam hadits beliau:

Dari Muawiyah bin Abi Sufyan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Umat sebelummu dari ahli kitab terpecah menjadi 72 millah (aliran). Dan agama ini (Islam) terpecah menjadi 73. 72 diantaranya di neraka dan satu di surga. Yaitu Al-Jamaah.” (HR Abu Daud)

Dalam kitab syarah (penjelasan) Sunan Abi Daud yaitu kitab Aunul Ma’bud disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-jamaah adalah ahli Al-Quran Al-Kariem, ahli hadits, ahli fiqih dan ahli ilmu yang bergabung untuk mengikuti Rasulullah SAW dalam segala halnya. Mereka tidak membuat-buat bid’ah yang merusak, merubah atau membawa pendapat yang rusak.

Seolah-olah Rasulullah SAW sudah mengisyaratkan akan ada beberapa alur akidah yang menyimpang dari apa yang beliau ajarkan, sehingga beliau mewanti-wanti ummatnya agar tepat berpegang kepada ahlussunnah wal jamaah.

Ahlussunnah wal jamaah yang dimaksud oleh beliau tentu bukanlah nama dari sebuah organisasi baik berbentuk ormas atau orsospol. Juga bukan nama sebuah jamaah, kelompok, pengajian, perhimpunan atau forum sebagaimana yang kita sering dapati penggunaannya oleh beragam kelompok.

Istilah ahlisunnah wal jamaah digunakan oleh Rasulullah SAW untuk menyebutkan semua umat Islam yang secara aqidah berpegang teguh kepada apa yang beliau ajarkan (sunnah) serta yang diajarkan oleh para shahabat beliau (jamaah). Jadi apapun nama organisasi atau partainya, asalkan pemahaman aqidahnya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW (yang diajarkan beliau) dan jamaah (apa yang diajarkan oleh para shahabat beliau), maka mereka semua adalah ahlus sunnah wal jamaah.
Maka nama-nama yang anda sebutkan seperti Muhammadiyah, Persis, Ahmadiyah, LDII, Islam Jamaat, Khurij dan ribuan nama lainnya bisa dikatakan sebagai ahlussunnah wal jamaah manakala mereka memiliki prinsip aqidah yang seusai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya. Sebaliknya, bila mereka mengajarkan aqidah yang menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, maka pada titik penyimpangan itu mereka bukanlah bagian dari ahlussunnah wal jamaah.

Misalnya, bila ada di antara jutaan organisasi itu yang mengingkari Allah SWT sebagai tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya, atau mengingkari kenabian Muhammad, atau mengatakan adanya nabi sepeninggal beliau, atau mengingkari kebenaran Al-Quran dan hadits, atau mengingkari adanya hari kiamat, atau mengingkari keberadaan surga dan neraka, qadha dan qadar serta apa-apa yang Allah SWT tegaskan dalam kitab-Nya, maka itu adalah penyimpangan aqidah.

Mahzab Fiqih

Sedangkan di dalam aqidah umat Islam yang ahli sunnah wal jamaah ini, mungkin saja ada perbedaan teknis dalam masalah tata cara ibadah. Perbedaan ini sangat logis, wajar dan mungkin terjadi. Bahkan sudah terjadi sejak nabi Muhammad SAW masih hidup di antara para shahabatnya. Untuk itu lalu para ulama membuat metologi dalam memahami nash Quran dan Sunnah serta membuatkan ‘jalan’ bagi mereka yang ingin mendapatkan kesimpulan hukum dari sumber-sumber ajaran Islam itu. Jalan inilah yang kita sebut dengan mazhab fiqih. Adapaun bila metodologi yang berkembang berbeda-beda, adalah hal yang amat wajar sekali. Karena memang syariat Islam memberikan ruang untuk berijtihad di dalamnya.

Di antara contohnya adalah adanya perbedaan dalam masalah hukum qunut dalam shalat shubuh, jumlah bilangan rakaat tarawih, bacaan ushalli, zikir dengan suara keras dan berjamaah serta lain-lainnya. Semua itu adalah perbedaan yang bersifat fiqhiyah, bukan dalam hal aqidah. Jadi mereka yang berbeda pendapat dalam masalah itu sebenarnya tetap sama-sama termasuk bagian dari ahli sunnah wal jamaah juga.

Sedangkan yang dianggap keluar dari aqidah ahli sunnah misalnya bila punya pandangan bahwa semua agama sama, atau bahwa pemeluk agama selain Islam juga bisa masuk surga, atau pandangan bahwa hukum Islam itu tidak wajib diterapkan, memisahkan antara agama dengan kehidupan dunia dan pemikiran sesat lainnya. Semua ini termasuk paham sesat yang bisa mengeluarkan seseorang dari barisan ahli sunnah wal jamaah.

Semoga Allah menetapkan hati kita di atas nikmat hidayah yang telah dianugerahi kepada kita, Amien.

Wallahu A’lam Bish-Showab,
Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.


2 Comments on “Ahli Sunnah Wal Jama’ah”

  1. akhwat_rohma_hidayah says:

    wa alaikumussalam wr.wb

    sempat sedikit pesimis,,,saat tengah baca post ini,bro
    soal masalah bid’ah bidah segala macam tadi…
    soalnya masih bingung juga ngebedain..(maklum masii setitik ilmunya)
    contoh nyatanya begini,,,soal imsak ada atau enggak,kalo datang bulan bole potong kuku apa enggak dsb dsb…yg jujur bikin rohma pengennya gag mau ambil pusing tapi mala dibikin bingung…

    yg di Liqo bilangnya tak ad yg begitu, yg ibu kandung sendiri bersikekeuh harus ngikutin yg begitu, yg di dorasatul lail bilangnya gag usa di ambil pusing tapi ambil yg terberat aja…

    lah,,agama kan gag memberatkan kan ya?
    dan fiqh itu utk diyakini bukan untuk diperdebatkan kan ya…

    dalam usia yg masih dini ini (18 th) yg ilmunya jg cetek…mau diaduin ama siapa pun juga bakalan kalah…
    jujur,meski uda terbiasa ama materi2 keislamana begini lah kok kayaknya ilmu saya nih masih segini2 aja ya…
    saya justru malah salut,abang ke bandung makin diimprove aja pengetahuannya…
    sebenarnya bagaimana kiat2nya ini…saya kok merasa makin lama makin lambat aja perkembangannya (kalo gag mau dibilang bodoh, coz menghargai n mensyukuri otak dari Allah juga wajib!)

    back to d topic,,,yaaaa…dari post ini saya jadi dapet pelajaran:
    1. berarti saya harus bisa improve lg ilmu bidang ini…
    2. saya jd tau,,,ternyata permasalahannya bukanlah pada teknis beribadahnya..tapi lebih kepada akidahnya ya mas ya???
    ok…
    hamasah!hamasah!
    insyaallah bermanfaat…
    ditunggu topik selanjutnya…

    aha iya,,saya nak request nih kalo boleh…
    berhubung kayaknya makin lama saya makin lambat
    (sad mode:ON)
    ruang gerak n komunikasi -referensi juga kayaknya gak leluasa/gak selincah abang ni…
    kalo ada secercah referensi niii…untuk menjawab pertanyaan saya selama ini…

    – kan di blog ini ada posteling ttg yg gak boleh menggambarkan gmn siksa neraka/azab dll gt kan ya (di tema:sinema religi)
    nah…saya ini kok masih kepikiran ya..dulu waktu kecil sempat nanya2 sendiri dalam ati…itu lho,yg kisah isra’mi’raj…Nabi Muhammad naik ke langit kan ya?liat ada nabi2 terdahulu, mUsa,yusuf dll..
    katanya tu ada surga kan ya…
    trus yg sabdanya beliau melihat ahli neraka banyak nya perempuan…

    lah,bukannya manusia bisa masuk surga/neraka setelah ntar dihisab pasca kiamat kan ya…
    (salah ya nanya gitu?soalnya kadang masih suka kepikiran jg.mhon diluruskan bila ternyata sudah dapat pencerahannya di post berikutnya)

    – trus juga ya…ada tuh,,,saya dapet pemikiran2 di sebuah novel islami terkenal …ntar dah saya tanyakan kapan2…itu ada kaitannya juga dg posteling abg ini spt nya…

    tp insyaallah yg ini dulu dah…
    smg brmanfaat…

    jgn bosan berbagi y….
    jazakallah…

    Assalamu’alaykum..
    untuk pertanyaan tentang apakah surga dan neraka telah berpenghuni, ini pernah ditanyakan pada saat saya menghadiri sebuah ceramah. Persis seperti yang rohmat tanyakan. Waktu itu, sang ustadz (dosen fakultas IAIN) menjawab bahwa sebenarnya itu tidak ada penjelasan mengenainya, namun teori yang berkembang (kebetulan katanya ia mengajar di bidang seperti ini) bahwa dahulu pernah hidup makhluk/manusia sebelum manusia sekarang ini. Jadi yang ada di neraka/surga tersebut adalah makhluk/manusia terdahulu. Beliau juga menjelaskan masalah nabi adam yang diturunkan ke bumi dari surga karena telah berbuat dosa, bukankah dijelaskan bahwa pada saat di surga kita bebas melakukan apa saja tanpa berdosa? Jadi menurut teori katanya lagi, bahwa surga yang dimaksud adalah seperti taman di langit, bukan surga seperti yang kita ketahui.

    Jujur saja, saya masih bingung dengan hal ini, karena saat saya tanyakan kepada yang lain ada jawaban bahwa hal tersebut bisa-bisa saja, Allah Maha Kuasa, bisa saja itu memang gambaran masa depan yang diperlihatkan Allah kepada Rosulullah. Begitulah kira-kira.

    Jadi kesimpulannya, saya sendiri tidak tau mana yang benar, karena seperti yang ustadz tadi jelaskan bahwa hal ini tidak dijelaskan di manapun. Namun ada baiknya kita tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, karena hal ini adalah sesuatu yang ghaib, dan lebih baik kita fokuskan kepada sesuatu yang dapat meningkatkan iman kita. Demikian yang bisa saya jawab berdasarkan apa yang saya ketahui, bukan dari pemikiran sendiri, karena saya sendiripun ilmunya sangat-sangat-sangat sedikit sekali mengenai hal seperti ini.

  2. akhwat_rohma_hidayah says:

    A : Lia dimana Nak? Oh Tuhan, dosa besar apa yang telah kulakukan ini…
    B : Lia tinggal di pesantren, Pak. Bersama saya…
    A : Bolehkah orang Kristen sperti kami datang ke tempat muslim seperti tempat Anda (pesantren) ?
    B : Bolehkah seorang muslim pergi ke gereja dan meminta saran kepada pendeta ?
    A : Boleh, Nak…
    B : Dan saya pernah ke gereja dan meminta saran kepada pendeta tentang nasib hidup saya.
    A : Nak, apakah bagimu kami ini ahli neraka?
    B : Aduh, jangan berkata begitu, Pak…
    A : Bukankah kami di mata Anda adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus?
    B : Sesat tidaknya manusia bukan manusia yang menentukan, Pak. Maafkan saya apabila banyak di antara saudara saya yang mengatakan demikian. Saya tidak sanggup membayangkan, Tuhan akan memasukkan seorang muslim yang jarang shalat, suka mabuk-mabukan, pacaran yang mempraktikkan seks bebas, korupsi, tukang fitnah, tukang tipu dan perbuatan-perbuatan bejat lain akan dimasukkan Allah ke dalam surgaNya, sedangkan seorang Kristiani yang rajin bersembahyang, baik kepada tetangga, bersikap lemah lembut, menebarkan cinta kasih dan seterusnya perbuatan-perbuatan baik, justru dimasukkan Tuhan ke dalam neraka. Menurut saya, Tuhan kita sama. Yang terbaik di mata Tuhan adalah yang terbaik di antara kita dalam menapaki jalan2 lurus dalam agama kita masing-masing…
    A : sungguh indah kata-katamu Nak
    B : Jadi, apakah saya diizinkan bapak utk menikahi putri Bapak? [putrinya sudah pindah agama islam]
    A : Apakah boleh dalam agama Anda, seorang suami yang memiliki mertua berbedea agama?
    B : apakah itu menjadi persoalan buat Bapak sekeluarga?
    A : Tidak
    B : saya juga tidak ada persoalan, jika memang bapak dan keluarga menerima saya sebagai menantu dengan segenap perbedaan keyakinan saya dan Lia terhadap Bapak, Ibu dan Adik
    A : kapan Anda ini mau menikahi putri saya?
    B : Besok..

    Yang mau di garis bawahi di sini adalah perkataan A yang “sesat tidaknya ………”

    Jujur nih…gak mau muna’ juga…dulu..saya kadang suka kepikiran itu…
    Non islam yang baiknya sebaik2nya…tapi amalannya sia…karna bukan muslim/muslimah
    Tapi yang muslim malah zalimnya gak ketulungan masih ada kesempatan mendapatkan ampunan…ada peluang masuk surga…

    Tapi lama berpikir…saya pusing sendiri n bilang…ahk gak taulah….wallahu a’lam bishsowab…
    Tapi uda ngomong begitu pun…teteup aja pikiran tadi tetep nongol juga….
    Akhirnya lambat laun saya punya argumen lain lagi …saya bilang ama otak saya…
    Oh jelas akan berbeda orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan dengan yang mensekutukanNya…karena aqidah…tauhid …itu nomor satu…jadi kalo yg pertama gak dipenuhi..yang nomor selanjutnya sia2 juga …karna itu dasarnya …TAUHID…

    Tapi otak ni ngomong lagi… lho…gimana dgn orang yang dari lahir terlahir sbgai non islam….dia kan masuk agama yang lain karna terjebak pd nasab keluarga…lah kalo ternyata dia meninggal sebelum mengenal indahnya islam atau sebelum dapet hidayah…kan kasian….

    Lama lama— “aduh….udahlah …banyak yang gak bisa aku jawab tau gak!!!kalo kita mikirin itu semua…ya bisa gila lah kita…
    Sama kayak kalo kita uda mulai mikirin gimana rupanya allah, atau gimana rupanya surga itu…waduh bisa ancur ni otak gak kan nyampe…
    Jadi stoplah mikir begituan!!!!!”
    “tapi…”
    “stop”
    “tapi…”
    “STOOOOOOOOOOOOOOOOP”

    Begitulah saya berperang dengan diri saya sendiri…Hingga waktu berlalu…sampe saya lulus SMA dan kuliah…eh…baca novel spiritual pembangun iman yang terkenal pula karya Taufiqurrahman Al Aziz…Trilogi pula..udah diakui ama tokoh2 terkenal…kayak K.H.D Zawawi Imron—Penyair,budayawan; Samsul Arifin M.Ag—DosenUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Kuswaidi Syafi’ie—Penyair, editor & budayawan…
    Dan di salah satu trilogi itu , yang terakhir namanya “Makrifat Cinta”…nah di novel yang saya baca itulah ada dialog tadi yang bikin saya ingat gimana dulu saya juga sempat punya pemikiran spt itu…

    Eh sekarang kepikiran lagi….bukan mempermasalahkan bagaimana keputusan allah nanti (karna di alqu’an juga terang dijelaskan bahwa kita tak bole mengada2kan sesuatu yang berhubungan dg sifat allah yang tak kita ketahui ilmunya…)melainkan saya terpikir karna jadi sulit menetukan bagaimana sikap yang bijak menghadapi yg demikian karna toh kita hidup di sekeliling orang2 non muslim jg…
    slah2 bicara,,malah melemahkan semangatnya yang mungkin saja mulai mencari keindahan islam yg kemudian insyaallah bisa membawanya masuk islam…

    Tapi alhamdulillah…pas 2 hari yg lalu saya tengah baca tafsir qur’an ba’da sholat fardhu ..kebetulan wktu itu nyampe jus 8 surat al an’am

    “sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yg mendapat petunjuk” (6:117)

    “demikianlah (para rasul diutus) karna Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, sedang penduduknya dalam keadaan lengah (belum tahu)” (6: 131)

    “dan masing-masing orang ada tingkatan-tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan” (6:132)

    “sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (6:159)

    “Katakanlah (Muhammad), apakah (patut) aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali dan akan diberitahukanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan”

    Sebenarnya…sebelum tahun 2009 (paz tahun 2008 waktu awal2 masuk kuliah) …saya udah pernah baca waktu baca qur’an yang masalah kelak bakal di ketahui kebenaran dari apa yang kita perdebatkan…

    Tapi gak tau surat apa…

    Yang jelas… kemaren pas habis zuhur itu eh nyampe ke ayat tersebut… insyaallah ini uda cukup buat otak rohma biar gak mikir yang aneh2 dulu…masih dangkal banget otaknya…kepikiran itu tah hapa pula nanti jadinya….

    Yah…apabila ada referensi atau pencerahan untuk lebih memantapkan hati ini (eh hati kita ding—)…tetap ditunggu lho sharingnya….

    Syukron….

    oh ya,,terimakasih banyak2 jawabannya…insyaallah bermanfaat.
    hamasah!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s