kebenaran adalah

Bismillahirrohmanirrohim..

Entah mengapa, aku ingin sekali menulis tentang apa itu kebenaran menurut yang aku fahami sekarang. Mungkin ini bisa jadi evaluasi beberapa tahun lagi apakah pendapatku masih seperti ini apa tidak. Hidup ini sungguh penuh liku-liku, kadang kita di sebelah kanan, kadang juga di kiri, kadang berada di atas, namun tak jarang di bawah. Hidup juga penuh dengan pilihan-pilihan. Sedari kecil kita sudah dihadapi dengan berbagai pilihan hidup hingga sekarang sudah banyak sekali kita memilih diantara pilihan-pilihan tersebut. Seperti kata bu Ririn dosen AI-ku saat belajar tentang searching. Hidup ini penuh problem, mulai dari bangun tidur kita dihadapkan dengan pilihan apakah mau terus bangun atau kembali tidur. Habis bangun mau makan atau mandi terlebih dahulu, dan sebagainya. Itulah hidup. Namun, diantara pilihan yang ada, ada yang dampaknya kecil, namun tak sedikit yang berdampak besar bagi hidup kita.

Problem yang paling penting menurutku sebagai umat muslim adalah masalah aqidah, karena inilah dakwah panjang yang dijalankan nabi dan rasul utusan Allah, yaitu mengajak kepada tauhid. Waktu kecil aku hanya belajar agama lewat madrasah di sore hari, karena waktu itu aku sekolah di sekolah umum. Waktu kecil yang sering diajarkan adalah  masalah iman kepada Allah, lalu masalah seputar ibadah. Tidak pernah terdengar bahwa islam itu memiliki aliran atau kelompok-kelompok. Bahkan sampai SMA, aku tak mengenal itu semua, yang ku tahu ya Islam yang diberikan oleh orang tua dan guruku sejak kecil. Just Islam!!

Setelah masuk ke STTTelkom yang sekarang menjadi ITTelkom perlahan aku mulai sedikit kenal dengan adanya aliran, kelompok, manhaj atau apalah namanya. Cerita tentang diriku cukup sampai disini. Selanjutnya adalah aku ingin tegaskan kepada diriku bahwa jangan pernah berhenti mencari kebenaran dan kebaikan. Jika terdapat beberapa pilihan dimana hanya ada satu yang benar, maka jangan dulu sepenuhnya yakin bahwa yang kita pegang saat ini adalah benar sebelum kita membuktikan bahwa pilihan yang lain adalah salah. Dengarlah apa yang orang katakan, karena belum tentu kita lebih tahu dari mereka. Kalau kata salah seorang teman diskusiku, “Lihatlah kotak dari segala sisinya, jangan hanya dari mukanya saja” kurang lebih begitu katanya. Terkadang saya suka bertanya-tanya, kalau yang saya yakini ini benar, kenapa si fulan-yang notabene lebih mengerti tentang hal ini- tidak sependapat? Terutama dalam masalah agama, kalau masih ada ulama yang mempertentangkan sesuatu yang dianggap benar oleh segolongan yang lain, maka perlu dicari tahu mengapa bisa begitu? Sekali lagi terutama masalah aqidah, karena itu seharusnya tidak boleh berbeda, kecuali masalah syari’ah, begitu setauku. Apakah kebenaran itu? Apakah kebenaran hanya ditentukan dari niat? Apakah kebenaran ditentukan dari hasil? Ataukah dari proses? Atau itu telah dijelaskan dalam Qur’an dan Sunnah? Mengapa banyak ulama yang berpesan agar kembali kepada Qur’an dan Sunnah? Apakah karena sudah banyak tindakan yang melenceng dari ajaran tersebut? Mana yang lebih penting antara urusan ini atau urusan itu? Dan sebagainya.

Aku bukanlah orang yang banyak tahu tentang masalah agama, tapi setidaknya aku ingin memaksimalkan kerja otakku untuk berfikir dan berfikir, jangan sampai aku melakukan sesuatu tanpa dasar yang jelas (walaupun hal ini tak jarang kulakukan), karena apa yang harus ku jawab saat ditanya di hari akhir nanti. Tinggalkanlah yang ragu-ragu olehmu Said.

Terima kasih kuucapkan atas orang-orang yang selama ini mau membimbingku, memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada orang yang lemah dan bodoh ini.

CMIIW


7 Comments on “kebenaran adalah”

  1. risna1911z says:

    Cerita tentang diriku cukup sampai disini. –> wah padahal ini yang seru, kok udahan ceritanya.
    Ya islam memang cuman satu, kenapa ada banyak aliran karena orang-orang menafsirkannya dengan berbeda (ilmu tiap orang kan tidak sama)
    Adanya jamaah karena fitrah manusia yang selalu naik turun imannya, makanya dy membutuhkan sebuah komunitas untuk saling mengingatkan.
    Yang terpenting menurut saya c saling menghormati satu sama lain aja.
    Kalo ana sendiri sampai saat ini tak banyak menemukan kendala untuk masalah itu, mungkin juga karena pengetahuan ana yang masih minim kali.
    Tapi yang pasti asal kita satu aqidah dan masih berpegang pada al-qur’an dan sunnah in.Allah itu gak akan jadi masalah.
    Ya mungkin diskusi aja said, dengan orang yang antum percayai
    CMIIW😀

    Yang terpenting menurut saya c saling menghormati satu sama lain aja –> setuju mba. Tapi kalo saya sih bukan berarti kita berhenti belajar dan mencari. Siapa tau mereka yang lebih benar. Dari yang saya tau, ulama besar terdahulu berda’wah mengajak kepada Qur’an dan Sunnah, bukan membangun fikrah baru dan mengajak kepada fikrah mereka tersebut.. Da’wah islam tidak mengajak kepada kelompok-kelompok, begitu yang saya dengar dalam sebuah kajian. Ini jadi referensi bagi saya..

  2. suryopranoto says:

    Ya mang susah id, dari 72 golongan yang terpecah pun hanya 1 yang masuk surga, betapa kecilnya lobang pintu surga itu… Filternya lebih ngeri dari PF Filter Ma IPTABLES. Mungkin firewallnya kayak gini ya?
    iptables -A -p !aqidah -j DROP
    iptables -A -s !71 Golongan -j DROP
    .
    .
    .
    .
    .
    hehehe…

    hwahwa.. aduh mas..mas.. fikiran mas kq isinya iptables semua..haha..
    Klo filter calon is**i mas gimana tuh?
    apa kaya’ gini?
    iptables -A -p !ganteng -j DROP..

    haha..

  3. arubanna says:

    “Jika terdapat beberapa pilihan dimana hanya ada satu yang benar, maka jangan dulu sepenuhnya yakin bahwa yang kita pegang saat ini adalah benar sebelum kita membuktikan bahwa pilihan yang lain adalah salah.”

    Menarik nih,, tapi yang kayak gini nih yang butuh proses dan keberanian… Menurutku sih yang penting open minded ajah,, selama gak menemukan something wrong,, kenapa enggak…

    Btw,, teori di atas mirip sama asas falsifikasi di logmat…

  4. 10041990 says:

    wahh..iya ya bang…

    rohma sih jg blum nyampe dah ke aqidah yg benar2 lurus..
    hanya saja untuk tidak pesimis si pake metoda ini:

    BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM..
    – aqidah itu adalah masalah kepercayaan kepada TUHAN…
    sama spt yg abg katakan di atas :
    “Problem yang paling penting menurutku sebagai umat muslim adalah masalah aqidah, karena inilah dakwah panjang yang dijalankan nabi dan rasul utusan Allah, yaitu mengajak kepada tauhid.”
    sedangkan tauhid adalah kepercayaan kepada ALLAH yang ahad (tunggal–satu–tidak bersekutu)
    selama kita tetap berpikiran teguh meyakini al ikhlas (meyakin bahwa allah satu-satunya tuhan yg patut di sembah) dan berpegang teguh pada kalimat ilahi rabbi (laa ila ha illallah)…
    adek fikir itu sudah satu langkah awal yg cemerlang utk mendapatkan kebenaran selanjutnya…
    walaupun dengan itu saja belumlah cukup…
    berbicara mengenai aqidah-kebenaran-tauhid..saya jadi teringat kepada salah satu perkataan seorang kakak/abang–yg kebetulan dia merupakan pendiri dorasatul lail yg saya ikuti…saat saya sedikit bertanya–lebih tepatnya curhat–bahwasannya saya merasa tidak puas dengan diri saya yg sekarang (saat kelas 3 SMA semester pertama)–bahwa saya merasa sangat2 malaz belajar, tapi mendapat nilai sama atau bahkan lebih baik dari yg sudah belajar mati2an (mode lebay : ON), mengapa saya menjadi sangat malaz menimba ilmu sperti ini??? dst—lalu apa kata sang guru?
    “tauhid mu yg perlu diluruskan, dek.”
    “what” hatiku bertanya2…”bukankah tauhid itu kepercayaan kepada allah? aku percaya kok sama allah yg ahad..ada apa ini?”masih dalam hati bertanya2.
    “tapi sedikit banyak hati ku agaknya mengerti,bahwa memang tauhidkulah yg perlu diluruskan”

    berbagai golongan dan aliran..
    – fiqh itu untukk diyakini bukan untuk diperdebatkan…
    (itu yg pernah kudengar di televisi,,diambil dari buku/kitab islam bertulisan arab)
    adek rasa karna perdebatan itulah akhirnya manusia mengambil jalannya sendiri sehingga terbagi atas boleh saja meyakini sesuatu, tapi bukankah harusnya dikembalikan kepada al qur’an dan hadist…
    sayangnya,kita yang kurang menggali qur’an dan hadist

    – selama ini sih saya sllu pegang pada satu metoda yg saya buat sendiri untuk kemudian saya jadikan salah satu prinsip hidup.prinsip itu adalah :

    A.”selera boleh mengalir seperti air.mengikuti selera yang kian berubah waktu ke waktu.
    tapi soal prinsip, GAK BOLEH MENGALIR SEPERTI AIR.
    atau menggunakan option kedua : MENGALIR SEPERTI AIR TAPI GAK MUDAH TERSERET ARUS
    maksudnya..selama kita merasa prinsip kita benar, dan belum ada referensi apapun yg mengatakan prinsip kita salah, MUTLAK TIDAK AKAN SAYA UBAH..
    karna buat saya seseorang akan berkarakter adalah apabila ia memegang teguh prinsipnya…
    tapi bukan berarti ia tak akan mendengar atau mencoba memahami perbedaan prinsip pd org lain..
    dengarkan saja dulu, setelah dengar dari A sampai Z, kita akan bisa menilai, benar atau salah, or benar sebagian dan salah sebagian atau salah semua atau benar semua…
    tahap ini yg sangat rentan terkena virus GHOZALUL FIKRI krna untuk memFILTERnya memang jangan sampai lepas dari alqur’an dan hadist..
    kalau ternyata prinsipo kita salah, ya gak usah bertahan dg prinsip yg salah…
    nah itu kalau prinsip yg tidak kita dasari atas ajaran islam atau kita tidak tau menurut islam prinsip kita benar atau tidak.
    B. nah kalo prinsip yg kita buat atas dasar ISLAM…seumur hidup gak perlu diganti,DENGAN ALASAN APAPUN,karna prinsip islam gak mungkin salah…
    cth gampangnya deh,PRINSIP GAK MAU PACARAN,misalnya..
    mungkin awalnya prinsip gak mau pacaran itu jadi prinsip A,krn belum dapet ilmu nya..prinsip itu akan mudah goyah,karna blum ada dasar yg kuat,hanya karna kita yg inginnya sperti itu,prinsip dari hati sendiri.
    nah saat kita sudah sampai kepada ilmunya, lalu seperti yg abg katakan td HIDUP INI PENUH PILIHAN–lalu trnyata kita menjatuhkan pilihan utk mengikuti islam,
    berarti kita telah membuat suatu prinsip yg islami.dan saya rasa GAK BOLEH DIRUBAH,krn sudah ada dasarnya,dasar inilah yg mbuat kita gak ragu apakah prinsip ini benar atau salah.

    – percaya bahwa allah maha mengetahui dan tau kita ini lemah dan banyaknya gak tau..jadi tergantung niat…
    kita hanya bisa ikuti kata hati…bukankah hati nurani itu bersuara atas izin allah…(hanya kita saja lah yg tak jarang mengabaikan suara hati kita sendiri)
    kalau sudah dilema sperti ini, langkah terakhir adalah mengikuti kata hati,coba bertanya kembali pada hati nurani…hati nurani gak pernah salah…saat kita sudah tidak ragu lagi, itulah kata hati..jadi kalau masih ragu, kemungkinan besar itu bukan kata hati nurani,,,

    tapi sebenarnya ada cara yg udah allah berikan kepada kita, rasulullah sendiri juga snantiasa menganjurkan agar setiap permasalahan sekecil apapun diserahkan kepada allah, sehingga adalah itu yg namanya shalat istikharah…
    pengalaman pribadi nih, bhwa dgn shalat istikharah, ternyata hubungan batin insyaallah lebih terbuka, sehingga hati ini benar2 MANTAP.

    hasil akhirnya,wallahu a’lam bisshowab…allah juga uda berfirman dalam ayat suci al qur’an bahwa dia gak akan menghukum hambanya yg tidak tau/dlm kondisi terpaksa/lupa.

    bahkan binatang yg haram dimakan aja bisa jadi halal kalo terpaksa.
    bahkan pelacur berdosa aja bisa diampuni allah lantaran bertobat..
    bahkan org bodoh berdosa aja insyaallah diampuni apabila ia bertobat setelah mengatahui ilmunya dan gak akan mengulangi..sama kayak umar bin khatab kan ya?
    dst… (saya yakin abang jauh lebih banyak tahu cth2 lainnya)

    sebenarnya pun yg menjadi modal adalah bukan karna pahala kita yg menggunung, dosa kita yang sedikit, ibadah-ibadah kita yang banyak, dst dst
    melainkan rasa harap kita kepada allah…MENGHARAP RAHMAT ALLAH..

    bagaimana sia-sianya amal sang ahli ibadah krna dia melakukan tanpa mengharap rahmat ALLAH,(mungkin krna rutinitas saja), lalu karna itu ia dicampakkan ke neraka…
    walaupun bukan dgn alasan mengharap rahmat allah kita lalu mengabaikan segala sesuatu, tidak beribadah dll,,
    karna gimana mo dapat rahmat allah kalo gak brusaha mendekatkan diri..
    tapi sekali lagi, ibadah, dll cuma alat, modal penting nya adalah RAJA’ (MENGHARAP RAHMAT ALLAH)…

    ISLAM GAK NILAI HASIL TAPI PROSES

    JADI INTINYA selama kita melakukan DG NIAT KARNA ALLAH, tentunya setelah melakukan berbagai ikhtiar dan berpikir seperti abg lakukan, insya allah,KITA AKAN BERTEMU ALLAH DI JANNAHNYA DALAM KEADAAN DIRIDHOI..

    aduh ngomong apa rohma ini ya bang…
    maafkan bila terdapat banyak kesalahan..itu hanya hasil pikiran orang yang bodoh ini yg coba dituangkan dgn alasan ingin berbagi

    “demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.kecuali orang yang beramal shaleh.dan SALING MENASEHATI DALAM KEBAIKAN DAN KESABARAN”

    afwan.jazakallah.insya allah bermanfaat.
    aslmlkm.wr.wb

    Trima kasih ya atas pencerahannya. InsyaAllah bermanfaat.

  5. benny says:

    bagus juga nih, Id. aq mo nambahin cuplikan dari Qur’an:
    “Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” QS 2:147

    btw si suryo kebanyakan ngoprek linux ya jadi gitu, hahaha…
    V^_^ peace..mbah sur!

    Ok oK mas, thanx.. ntar tak tambahin di blogku..
    Iya tuh, mas suryo,, lagi pusing TA kali dia, jadi ngawur gitul..haha..

  6. . says:

    Bismillah.
    ‘afwan, hanya sekedar menambahkan apa2 yang ana ketahui, dan berharap dapat bermanfaat bag yang membaca.

    1. Setuju, Memang yang penting untuk dibenahi oleh kita trlebih dahulu, sebagai kaum muslimin adalah aqidah, apakah sudah benar aqidah kita.
    Karena itu merupakan pondasi bagi kaum muslimin. banyak kaum muslimin pada saat ini yang tersandung dalam masalah aqidah,
    salah satu contoh yang populer di kalangan kaum muslimin adalah: meyakini bahwa Allah ada dimana-mana.
    padahal dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadits-hadits menyebutkan bahwa Allah beristiwa'(bersemayam) di atas Arsy, di atas langit.
    Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3)
    “..kemudian Dia-pun bersamayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)
    dan banyak dalil-dalil lainnya.

    2. **Apakah kebenaran itu? Apakah kebenaran hanya ditentukan dari niat? Apakah kebenaran ditentukan dari hasil? Ataukah dari proses? Atau itu telah dijelaskan dalam Qur’an dan Sunnah? Mengapa banyak ulama yang berpesan agar kembali kepada Qur’an dan Sunnah? Apakah karena sudah banyak tindakan yang melenceng dari ajaran tersebut? Mana yang lebih penting antara urusan ini atau urusan itu? Dan sebagainya.**
    Para ‘ulama memang berdakwah mengajak kepada tauhid, kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai pemahaman pendahulu kita, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kenapa harus pemahaman mereka? Karena agama ini Allah turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkannya langsung kepada para shahabat-radhiyallahu ‘anhum-, mereka berada di atas fitrah (dien/agama) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka menyandarkan aqidah kepada Alqur’an dan Assunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin.
    “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

    3. Banyak sekali pada zaman ini, hizb(kelompok) yang bersandar kepada Alqur’an dan Assunnah, namun sesuai dengan pemahaman mereka,. Akibat nya, justru akan memecah belah umat, dan setiap kelompok2 mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar. Apa-apa yang dari Alqur’an dan Assunnah yang sesuai dengan hawa nafsu dan akal mereka, maka akan mereka terima. Sedangkan yang bertolak belakang dengan akal dan hawa nafsu mereka, akan mereka tolak. Padahal agama ini bukan hanya berdasarkan logika dan akal semata.
    Ali bin abi thalib pernah berkata :”seandainya agama ini berdasarkan akal semata, tentu mengusap bagian bawah khuf lebih utama daripada mengusap bagian atasnya” tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atas khuf, bukan bawahnya. Dan agama ini berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan berdasarkan logika.

    4. Apakah cukup dengan niat saja? Kebenaran bukan lah hanya ditentukan dari niat, kebenaran adalah manakala niat kita lurus karena Allah Ta’ala (ikhlas) dan kita mengikuti apa yang telah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam- contohkan (Ittiba’ ar-rasul). Agama ini sudah sempurna, semua ibadah telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,maka hendaknya kita tidak lancang dalam mengamalkan suatu perkara yang tidak pernah ada dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pendahulu kita.
    “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3).
    Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan :
    “Ini merupakan kenikmatan yang besar, yang telah Allah berikan kepada umat ini, dimana Allah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak lagi butuh pada seorang rasul, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak lagi butuh kepada suatu agama kecuali agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.
    Maka apa2 yang ketika ayat itu turun(zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) merupakan agama(ibadah), pada hari ini juga merupakan ibadah. Sebaliknya, apa2 yang pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan merupakan ibadah, maka pada hari ini juga bukan ibadah.
    Dari Abu Dzar Al-Ghifary –radhiyallahu ‘anhu- :
    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kami, dan tidak ada seekor burung pun yang membolak-balikkan sayapnya di udara melainkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan ilmunya kpd kami”(HR. Ahmad)
    Dan semoga kita tidak termasuk dalam firman Allah :
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas baginya petunjuk, dan mengikuuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa : 115)
    Para ‘ulama menafsirkan orang-orang mukmin didalam ayat ini, yaitu mereka yang benar2 sudh teruji keimanannya, yaitu para shahabat –radhiyallahu ‘anhum-.

    5. **Aku bukanlah orang yang banyak tahu tentang masalah agama, tapi setidaknya aku ingin memaksimalkan kerja otakku untuk berfikir dan berfikir, jangan sampai aku melakukan sesuatu tanpa dasar yang jelas (walaupun hal ini tak jarang kulakukan), karena apa yang harus ku jawab saat ditanya di hari akhir nanti. Tinggalkanlah yang ragu-ragu olehmu Said.**

    Ya,begitu pula ana, masih dangkal akan ilmu syar’iy. tapi kita memang harus memaksimalkan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, untuk menuntut ilmu, dan tentunya yang wajib untuk dicari terlebih dahulu yaitu ilmu syar’iy. Sehingga apa2 yang kita amalkan berdasarkan ilmu, bukan hanya berdasarkan persangkaan bahwa hal itu adalah sesuatu yang baik.

    6.ana juga setuju, Saling menghormati memang penting, tapi bukan berarti apabila ada seseorang yang menashihati kepada si fulan atau suatu hizb, bahwa terjadi penyimpangan didalamnya, dianggap bahwa itu merupakan suatu pencelaan yang menjatuhkan kelompok tsb. Hal tsb semata2 merupakan suatu upaya untuk menjaga kemurnian syari’at (al-jarh wa at-ta’dil), dan memperingati ummat darinya. Tentunya kita semua tahu, bahwa perbedaan agama islam dengan agama yang lainnya, yaitu agama ini terjaga dengan adanya sanad(rantai). Dalam ilmu hadits pun, untuk menjelaskan apakah hadits itu merupakan hadits shahih, hasan, dha’if, dll; dilihat dari matan dan sanadnya (perawinya). Ketika mulai bermunculan hadits-hadits palsu yang tersebar di kalangan kaum muslimin yang berasal dari pendusta hadits, maka mulai dilakukan penelitian terhadap keadaan setiap hadits para perawi untuk melakukan tamhish(penjernihan) berbagai riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Sehingga tidak heran jika kita melihat pada saat ini, banyak para ‘ulama dan asatidz yang melakukan tahdzir(peringatan) kepada umat yang melakukan penyimpangan.

    Sebenarnya, orang yang pertama kali men-jarh dan men-tahdzir mereka yang menyimpang ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau mentahdzir khawarij dalam beberapa hadits dan menyifati mereka sebagai sejelek-jelek makhluq.

    Sebagaimana yang terdapat di dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu- tentang Dzul Khuwaishirah(nenek moyang khawarij) yang pernah menagtakan (dengan lancang) : “Berbuat Adillah wahai Muhammad!” Ketika ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkehendak untuk membunuh orang ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mencegahnya. Dan ketika Dzul Khuwaishirah berankjak pergi, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan (para shahabat-radhiyallahu ‘anhum-) darinya dan dari pengikutnya seraya berkata : “Sesungguhnya ia mempunyai para pengikut yang salah seorang dari kalian merasa shalatnya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat mereka, shaumnya tidak ada apa-apanya dibandingkan shaum mereka. Mereka (selalu) membaca Al Qur`an namun tidaklah melewati kerongkongan (tidak dihayati dan dipahami maknanya, pen). Mereka keluar dari (prinsip) agama sebagaimana keluarnya (menembusnya) anak panah dari tubuh hewan buruan.” (HR. Al-Bukhari no. 3610 dan Muslim no. 1064)

    Dan juga sabda beliau, sebagaimana dalam hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu: “Mereka adalah sejahat-jahat makhluk.” (HR. Muslim no. 1067)
    Sebagaimana pula sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Qadariyyah (para pengingkar taqdir): “Al-Qadariyyah itu Majusi umat ini. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia, jangan disaksikan (dihadiri) jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, hadits no. 338 dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah).

    Tapi sayang sekali, pada zaman ini, nashihah seringkali dianggap sebagai suatu celaan oleh sebagian orang.

    “ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).

    Semoga Allah senantiasa menunjukkan kepada kita semua jalan lurus,
    sebagaiman yang sering kita panjatkan dalam shalat kita dalam surat al-Fathihah “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus”
    dan sebenar-benarnya jalan, yaitu jalan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan para shahabat-radhiyallahu’anhum-.

    Dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari shahabat Abu Ruqoyah Tamim bin Aus Ad Daary -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitabNya, dan rosulNya, dan bagi para pemimpin Islam, dan bagi muslimin umumnya.”

    Wallahu A’lam.

    Terima kasih atas commentnya.
    Saya sungguh sangat tertarik membaca comment yang antum kirim. Saya cuma ingin menyinggung poin nomor 6, bagi saya ini menarik sekali. Sekarang banyak orang yang berpendapat seperti yang antum sampaikan bahwa mengingatkan suatu penyimpangan bisa menimbulkan perpecahan. Saya setuju bahwa itu sangat penting untuk menjaga kemurnian agama ini. Seandainya semua orang sadar hal ini, mungkin tidak akan terjadi banyak penyimpangan yang berlarut-larut. Tapi terkadang juga susah untuk membedakan, mana yang memperingatkan ke arah qur’an dan sunnah, dan mana yang menyeru ke arah yang menyimpang, apalagi bagi orang yang dangkal ilmunya seperti saya. Tapi setidaknya saya coba mempelajari seruan-seruan tersebut, mana yang mengajak ke qur’an dan sunnah, dan mana yang mengajak kepada suatu kelompok. Jika boleh, saya ingin sekali bertanya-tanya tentang hal-hal seperti ini kepada antum, semoga bisa menambah wawasan saya. Terima kasih.. O ya, kalau boleh saya ingin kenalan, mungkin lewat blog ini, atau bisa lewat email saya. Lumayan, itung-itung mengikat silaturahmi…😀

  7. kusmardiyanto says:

    saya sekedar ingin menyampaikan apa yang saya ketahui tentang kebenaran…bolehkan..
    kata kebenaran padanannya dalam bahasa al-qur’an (bahasa Arab) ada dua yaitu kata ash-shidq lawan kata dari al-kidzb (dusta) dan kata al-haqq lawan dari kata al-bathil (kebathilan). Ash-shidq maknanya adalah sesuai sebagaimana ‘ada’-nya. Kata ‘ada’ meliputi segala yang ada, baik yang dapat ditangkap oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia maupun yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia (ghoib)…kalau kita hanya mengakui hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indra dan akal kita selama kita hidup, ini sesuatu yang naif, karena terlampau banyak hal-hal yang tidak tertangkap oleh panca indra dan akal kita selama kita hidup…al-qur’an adalah kalam Alloh dan sifat dari kalam Alloh adalah ash-shidq, sebagaimana dikatakan di dalam al-qur’an surat al-an’am ayat 115, yang artinya,” Dan telah selesai (sempurna) kalimat robb kamu (sebagai kalimat yang) shidq (benar) dan ‘adl (adil)…”, ini artinya semua kalimat yang tertulis di dalam al-qur’an adalah ash-shidq (benar) yakni menyatakan sebagaimana adanya, jika dikatakan di dalam al-qur’an dikatakan bahwa ada makhluk yang bernama jin (surat al-jin), malaikat (surat fathir ayat 1), dan seterusnya itu berarti makhluk itu ada meskipun panca indra dan akal kita tidak mampu mendeteksinya…membenarkan semua kalimat yang ada di dalam al-qur’an, inilah namanya beriman dengan al-qur’an…mendustakan satu ayat saja, tidak bisa dinamakan beriman dengan al-qur’an…
    Al-haqq maknanya adalah bermanfaat buat manusia di dunia lebih-lebih di akherat, karena makna al-bathil adalah sia-sia diakherat kelak, sebagaimana yang dikatakan di dalam surat hud ayat 15-16, yang artinya,” Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat, kecuali neraka dan lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan bathil-lah (sia-sialah) apa yang telah mereka kerjakan.”…lalu siapa yang mengetahui apa-apa yang bermanfaat bagi manusia di akherat kelak? hanya Alloh, maka al-haqq mesti dari Alloh seperti yang dikatakan di dalam surat al-baqoroh ayat 147, yang artinya, ” Al-haqq (itu) dari robb-mu (yakni Alloh) maka janganlah kamu termsuk orang yang ragu.” …al-qur’an adalah al-haqq dari Alloh, sebagaimana dikatakan di dalam surat ar-ro’du ayat 1, yang artinya,” Alif lam mim ro’ ini adalah ayat-ayat al-kitab (al-qur’an). dan kitab yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad saw) dari robb-mu (adalah) al-haqq, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).”… sementara itu Alloh adalah juga al-haqq, sebagaimana yang dikatakan di dalam surat al-hajj ayat 62, yang artinya,” Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh, Dia-lah al-haqq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Alloh, itulah al-bathil, dan sesungguhnya Alloh, Dia maha tinggi dan maha besar.”… yang dapat dipahami dari ayat-ayat di atas adalah bahwa kebenaran (al-haqq) adalah “engkau mengabdi kepada Alloh dan tidak mensekutukan Dia dengan sesuatu apapun dalam pengabdian” atau ungkapan bahasa Arabnya adalah ” an ta’budulloha wa la tusyriku bihi syaia”, ini merupakan konsekuensi kalimatul-haqq “la ilaha illalloh”… sebagai contoh, Alloh memerintah kita untuk menegakkan sholat (surat an-nisa’ ayat 103), lalu kita tegakkan sholat sebagiamana yang dicontohkan oleh Rosululloh SAW (surat al-ahzab ayat 21) dan itu kita lakukan karena Alloh semata, inilah yang dinamakan mengabdi kepada Alloh, inilah salah satu bentuk kebenaran (al-haqq) yang akan membawa manfaat bagi manusia di akherat kelak, kalau itu dilakukan bukan karena Alloh maka tidak bisa dinamakan mengabdi kepada Alloh dan akan sia-sia di akherat kelak…contoh yang lain misalnya, zakat, puasa, haji, berbuat baik kepada kedua orang tua, menutup aurot, makan dan minum yang halal dan baik, nikah, dan lain-lain yang semuanya itu ada di dalam al-qur’an dan as-sunnah… kalau kebenaran (al-haqq) seperti itu maka kebathilan (al-bathil) prinsipnya adalah “engkau mengabdi kepada selain Alloh dan mensekutukan Dia dengan sesuatu dalam pengabdian”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s