Ketika Mereka Pergi

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Itulah sunatullah yang tidak dapat dihindari, ditunda, atau dipercepat kedatangannya oleh siapapun. Setiap orang, cepat atau lambat juga akan ditinggalkan orang-orang yang mereka cintai. Ayah, ibu, kakak, adik, siapapun, punya potensi untuk meninggalkan kita terlebih dahulu.

Ketika masa itu datang, ketika ayah atau ibu tiba-tiba pergi, sebagian orang merasa dunia seperti
sedang runtuh, hati berkecamuk, menjerit, sedihnya bukan main. Ya, hal itu sepertinya wajar dan sering kita lihat atau bahkan pernah meraskannya sendiri. Betapa tidak, orang yang kita cintai, yang banyak berjasa, dan bahkan belum sempat kita membalasnya, pergi untuk selamanya dari dunia ini. Untuk selamanya. Berbagai pertanyaan terkadang muncul dari dalam diri, mengapa begitu cepat? Mengapa dia, bukan yang lain dulu? Mengapa saat aku belum sempat membahagiakannya? Mengapa? Ada yang extrim, yang seperti tidak sanggup menerima kenyataan, meratap secara berlebihan. Yang terakhir ini, termasuk yang dilarang oleh syari’at berdasarkan hadits berikut.

Abu Said Al-Khudry رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلی الله عليه وسلم melaknat wanita yang meratapi orang mati dan sengaja mendengarkannya. Nabi صلی الله عليه وسلم melaknatnya karena ratapan itu mengandung perasaan sangat terpukul karena musibah dan sangat menyesal, dan setan meniupkan rasa marah terhadap takdir Allah ke dalam hati wanita.

Senang, sedih adalah sifat asli manusia. Salahkah jika mereka sedih dan menangis? Tentu tidak. Tapi
pernahkah kita melihat sesuatu dari sisi yang berbeda? Ketika seseorang sedih, menangis, menjerit
ketika orang yang mereka cintai meninggalkan mereka untuk selamanya, coba tanyakan, mengapa mereka menangis? Untuk siapa mereka menangis? Bukankah orang yang telah mati tidak akan mendengar dan mengetahuinya? Bukankah tangisan itu juga tidak akan membantu mereka? Lantas untuk apa? Memang kebanyakan kita jarang berfikir matang sebelum bertindak, itulah mengapa kita sering dikuasai oleh sesuatu selain diri kita, kemarahan, ego, nafsu, dan sebagainya. Tangisan dan kesedihan itu sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, karena ego.

Kita sedih karena menyadari :
Tidak ada lagi tempat kita mengadu.
Tidak ada lagi yang akan menyayangi kita.
Tidak ada lagi yang akan melindungi kita.
Tidak ada lagi yang akan memberi uang kepada kita.
Tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung keluarga.
Jadi yang disedihkan adalah untuk diri kita sendiri.

Tapi sekali lagi, sedih itu tidak salah, dan boleh-boleh saja. Yang harus dipikirkan adalah, apa yang
seharusnya kita lakukan setelah atau selain bersedih? Tentunya kita harus terus berbakti kepada mereka. Berbakti tidak hanya bisa dilakukan saat mereka hidup, tapi juga setelah mereka tiada. Cara berbakti seorang anak kepada orang tua yang telah tiada telah dijelaskan oleh Rasulullah melalui haditsnya.

“Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang telah meninggal : Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya), Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya), Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya), Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya), Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah kedua orang tua)”

Begitulah jalan untuk berbakti kepada orang tua yang telah tiada. Selain itu kita juga perlu untuk
menanyakan masalah hutang mereka jika ada, termasuk hutang puasa. Karena membayar hutang puasa orang tua wajib hukumnya oleh walinya sebagaimana dijelaskan oleh hadits berikut.

Hadis riwayat Aisyah رضي الله عنها: ia berkata:Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa untuk membayar tangungannya.

Sedih boleh-boleh saja, tapi berbakti harus terus dijalankan. Semoga kita tidak lupa mendo’akan mereka di setiap kesempatan, memohon ampun bagi mereka setiap selesai sholat, semoga kita benar-benar menjadi anak yang sholeh yang terus mengalirkan pahala kepada mereka, hingga mampu berkumpul semua dalam Surga Allah SWT.


2 Comments on “Ketika Mereka Pergi”

  1. relawanmuslimah says:

    amiin😀 *smoga stiap doa yang baik diperkenankan allah..amiin*

    rohma senang abang adalah said al faraby..senang sekali


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s