Sang Pemimpi VS Si Tukang Mimpi VS Sang Pemimpi yang Cerdas

Bermimpi yang tinggi itu perlu, begitulah kira-kira salah satu makna dari film Sang Pemimpi. Mimpi yang tinggi telah menjadikan mereka (para sang pemimpi) berusaha sangat keras mengejar mimpinya. Membuat mereka tak kenal lelah dan pantang putus asa “berlari”, berharap suatu saat bisa terbang menggapai mimpi. Mimpilah yang membuat mereka tetap “hidup”, di dunia yang seharusnya telah membuat mereka “mati”. Mati oleh kemiskinan, penderitaan, dan kehampaan.

“Orang kecil yang tak punya mimpi akan mati sebelum waktunya. Hanya Sang Pemimpi-lah yang akan terbang tinggi walau di kehidupan sebelumnya mereka harus tiarap dan merangkak.” Namun perlu diingat bahwa tak semua mimpi membawa kebaikan, tergantung apa yang diimpikan. Sang Pemimpi yang Cerdas akan memilih mimpi-mimpi yang baik. Mimpi yang baik adalah mimpi yang dilandaskan pada iman dan ilmu, hingga yang diimpikan adalah sesuatu yang berguna di dunia dan akhirat. Salah satu contoh mimpi yang tidak membawa pada kebaikan adalah mimpi jadi koruptor. Sedangkan contoh mimpi yang baik adalah bermimpi untuk naik haji dan mimpi jadi penghafal Al-Qur’an.

Kemudian, tak semua yang bermimpi akan terbang, bahkan melompatpun belum tentu bisa. Inilah yang terjadi dengan Si Tukang Mimpi. Mereka juga punya mimpi, yang tinggi dan mulia. Sayangnya mereka (para tukang mimpi) tak pernah berusaha mengejarnya. Mengapa? Ya karena mereka adalah “tukang” mimpi, yang menjadikan mimpi sebagai pekerjaannya. Mereka menganggap belum perlu berusaha, karena merasa waktu masih panjang, kematian masih jauh, sehingga mereka begitu santai menjalani hidup dengan terus bermimpi dan bermimpi. Dalam islam, ini disebut dengan panjang angan-angan, dan ini termasuk hal yang dilarang karena melalaikan.

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (An-Nisa:120)

Anas berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda : “Ini adalah mannusia dan ini adalah angan-angannya dan ini adalah ajalnya ketika ia berada dalam angan-angan tiba-tiba datang kepadanya garisnya yang paling dekat (yaitu ajalnya)”.
Hadits ini memperingatkan agar orang mempersedikit angan-angan karena takut kedatangan ajalnya yang tiba-tiba dan selalu ingat bahwa ajalnya telah dekat. Barang siapa yang mengabaikan ajalnya, maka patutlah dia didatangi ajalnya dengan tiba-tiba dan diserang ketika ia dalam keadaan terperdaya dan lengah, karena manusia itu sering terperdaya oleh angan-angannya.

Sekarang, tentukan pilihanmu boy, menjadi Sang Pemimpi atau Si Tukang Mimpi ataukah Sang Pemimpi yang Cerdas?


One Comment on “Sang Pemimpi VS Si Tukang Mimpi VS Sang Pemimpi yang Cerdas”

  1. relawanmuslimah says:

    coz i’m still here, i’m just be ordinary girl..

    but i believe that i can be what i wanna be..
    next time, i will be there to be “Sang Pemimpi yang Cerdas”

    i believe it.. believe..

    i have to live..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s