Menjadi Filsuf Sehari

Sambil nunggu England vs France, aku ngobrol ngalur ngidul dengan seorang teman, tentang hidup, masa depan, pekerjaan, cinta, dan sebagainya. Perbincangan tadi laksana sebuah ember yang menampung tumpahan ide-ide aneh yang saban hari terpikirkan olehku. Kata kawanku, mungkin aku terlalu lama sendiri sehingga terlalu banyak berfikir tentang hidup.. ahh ada ada saja. Padahal menurutku, seharusnya dia yang harusnya meluangkan waktu untuk berfikir tentang hidup, mengingat kisah asmaranya yang menyedihkan.. haha.. Tapi mungkin ada benarnya, seperti salah satu dosenku yang suka menyindir untuk mencari “pegangan”, karena hidup ini licin, mudah terpeleset.. Filosofis sekali saudara-saudara.

Tentang hidup. Aku suka memikirkan, bagaimana hidup yang menurutku benar, menyenangkan, tidak monoton dan semoga bisa bermanfaat seluas-luasnya. Bagaimana? Dulu waktu baru lulus kuliah pengennya hanya cari kerja yang aman titik. Terus biar segera menabung, menikah, beli rumah, beli ini, itu, dan sebagainya. Tapi semakin ke sini kok semakin melenceng ya? Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan ini? Hmm.. Entahlah, yang jelas sekarang kok semuanya seakan berbalik arah.

Sepertinya hidup yang asyik dan menarik itu adalah yang penuh tantangan;
juga yang penuh dengan hal-hal baru;
tambah syukur kalau bisa memberi sebanyak-banyaknya;
apalagi bisa menikmati indahnya penjuru dunia.

Merencanakan hidup yang seru. Bagaimana kalau kita :
Tidak berencana memiliki rumah yang besar, tapi berencana membangun mahligai rumah tangga yang menyejukkan.
Tidak berencana menyimpan banyak harta, tapi berencana memberi segudang manfaat.
Tidak berencana mengejar pangkat dan jabatan tapi berencana membaktikan diri untuk dunia akhirat.
Apalagi ya?? Nanti menyusul kalau dapat wangsit lagi hasil perenungan..

Sepertinya ketakutan akan ketidakpastian masa depan merupakan salah satu ketakutan terbesar setiap manusia. Hingga ketakutan ini telah membelenggu sedemikian erat, sampai-sampai kita tak mampu lagi berfikir di luar rutinitas, demi menjaga kepastian akan masa depan. Padahal kalaulah kita berani untuk melompat ke luar, mungkin saja di sana ada dunia yang lebih menyedihkan, tapi juga sangat mungkin dunia yang di sana jauh lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat tiap hela nafas kian berarti, kian dinikmati.

Jadi teringat kata-kata dari sebuah buku yang dikutip dari kebijaksanaan Imam Syafi’i..

“Orang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”

Mengapa negara kita sungguh korup? Mungkin ada hubungannya dengan biaya pendidikan yang masih dianggap mahal. Ya, menurut jiwa filsuf diriku.. hehe.. Biaya pendidikan yang mahal telah menempa otak setiap pencari kerja untuk mengembalikan modal sesegera mungkin, atau bahkan menggunakan prinsip ekonomi klasik yaitu dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Alih-alih bertekad untuk mengabdi, berkarya, membangun bangsa, mempertahankan moral dan harga diri pun sepertinya sudah sedemikian sulit.

Mengapa banyak orang gigih sekali mencari, mengambil, dan menumpuk? Bukankah essensi hidup ini adalah memberi? Kita bisa mengontrol apa yang bisa kita berikan, tapi tidak dengan yang kita dapatkan. Itulah mengapa yang seharusnya menyenangkan seseorang itu harusnya adalah memberi, bukan menerima.

Terakhir untuk malam ini, yaitu soal cinta..
Aku paling pandai menceramahi teman-temanku seolah-olah yang paling dalam pengalaman manis dan pahitnya cinta.. Padahal…zzz..
Tadi aku katakan pada temanku itu, kau jangan jatuh cinta dulu, terlalu dini jatuh cinta membuatmu tidak objektif menilainya, kau akan dengan mudahnya melupakan ketidakcocokan, kekurangan, kesalahannya seperti yang sudah-sudah, padahal kau tahu itu menyakitimu.
Dan, jadilah lelaki yang bertanggung jawab, kalau memulai ya selesaikan. Kalau sudah mengatakan suka, berarti harus sudah siap melamarnya. Jangan digantungin.. Ups, emang jemuran..

Aku jadi ikut terkontaminasi perihal cinta, karena kisah teman-temanku, yang sejujurnya lebih banyak memilukan.. hahaha..
Memang, yang perih-perih, yang sulit-sulit, itu yang akan mematangkan jiwa.
Bak intisari buku Sepatu Dahlan : Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa.
Begitu juga kisah cinta menyedihkan yang dihikmahi secara tepat, akan mematangkan jiwa.🙂

Demikian dulu ulasan sang Filsuf hari ini.
Nama adalah do’a, mungkin yang memberi nama mengharapkanku menjadi tokoh filsuf seperti namaku.. apakah ini tanda-tanda menuju ke sana? Jawabannya mungkin tergantung berapa lama lagi aku menyendiri…


2 Comments on “Menjadi Filsuf Sehari”

  1. the_nrr says:

    makin mantaff juga nee tulisannya…
    sepakat id, hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya itu tidak menarik…
    makanya sy memilih hidup sebagai pejuang, bersama sekelompok orang(berjamaah)
    🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s