Mari Bersabar

Sekitar setengah tahun yang lalu, lupa tepatnya kapan, seorang teman dosen menghadiahiku sebuah kertas putih bertuliskan kalimat :

“Man Jadda Wajada

Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil

Jangan pernah remehkan impian,

walau setinggi apa pun.

Sungguh Tuhan Maha Mendengar”

Kalimat sakti yang mungkin beliau ambil dari novel perjuangan “Negeri 5 Menara”.

Kertas yang sampai kini masih tersimpan di atas meja belajar di kamar tersebut, beliau berikan sebagai support dan tambahan motivasi untukku kala memulai sebuah perjuangan. Ya, perjuangan yang dulu kutargetkan akan terlaksana tahun “2013”, seperti sebuah nama folder di laptop yang khusus menyimpan  hal-hal terkait perjuangan tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan dan perhatian yang telah bapak berikan dengan lebih baik lagi. Sewaktu lagi semangat-semangatnya belajar, kertas itu kutempelkan di dinding kiri sebelah dalam meja belajar agar selalu bisa kulihat dan semoga terus membakar semangat ini. Alhamdulillah kini jalan ke tujuan semakin terbuka lebar, sesuatu yang dulu kurasa seperti tembok penghalang yang kokoh kini sudah berhasil diruntuhkan. Sungguh tidak menyangka bisa sejauh ini, terima kasih Allah dan semua yang telah membantu melewati tantangan ini.

Kini setelah perjuangan itu mendekati titik-titik akhir, yang sebenarnya kalaupun perjuangan ini berakhir akan mulai perjuangan-perjuangan baru lainnya, aku seperti membutuhkan kata sakti novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara, “Ranah 3 Warna”.

“Man Shabara Zhafira

Siapa yang bersabar maka ia akan beruntung”

Seberapa pun kerasnya usaha yang kita lakukan, hasilnya bisa berbeda dengan yang terjadi. Antara harapan dan kenyataan sangat mungkin terdapat celah pemisah, yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam. Ada yang bentuknya berupa hasil yang belum optimal, ada bentuknya berupa kegagalan, atau bisa jadi waktu terlaksananya yang tak seperti impian. Ukurannya mulai dari setipis rambut sampai sejauh langit dan bumi. Di sinilah peran Sabar. Sabar harus mengisi kekosongan antara harapan dan kenyataan. Sabar harus bisa menghindarkan diri dari keputusasaan serta melindungi diri dari buruk sangka terhadap Arrahman. Sabar harus bisa memulihkan hati dari kekecewaan dan mengubahnya menjadi api semangat perjuangan tak kenal henti, menuntun hati untuk selalu berbaik sangka kepadaNya, serta menjernihkan fikiran untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Memang, kalaulah perjuangan itu selalu dinilai dari hasil, maka pastilah hati sering diterpa kecewa. Jikalau yang dinikmati dari perjuangan adalah prosesnya, maka tak perlu khawatir hati terluka.

Mari belajar bersabar.


3 Comments on “Mari Bersabar”

  1. the_ne says:

    dasyat nian saudaraku ini, update terus..
    sepertinya sy juga harus segera update blog nee…

  2. man sara ala darbi washala.. siapa yg berjalan di jalur-Nya akan sampai di ujung jalan.. insyaAllah..
    ma’at taufiq, bang al, smoga sukses..

  3. […] kubaca berulang-ulang, di malam galau tak terdefinisikan menjelang sidang KTI ku kala itu.. ++ "Mari Bersabar" tentunya.. Benarlah, dekat dengan penjual minyak wangi akan mendapatkan percikan wanginya.. aku […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s