Mari Bersihkan Harta

“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas untuknya”

Begitulah bunyi sebuah hadits sahih mengenai hukum memakan harta yang haram, sungguh mengerikan, namun terkadang luput dari perhatian kita. Semoga kita selalu bersungguh-sungguh untuk menjaga harga kita dari sesuatu yang haram.

Ada sebuah kisah mengenai dampak dosa memakan sesuatu yang bukan haknya. Kisah ini menunjukkan bahwa setiap dosa yang dilakukan seseorang akan berdampak pada dirinya, bahkan terkadang dampak tersebut berdasarkan dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Sebuah kisah mengenai seorang pemuda sholeh yang semenjak kecil hidup di lingkungan orang sholeh, orang tuanya pun mendidik yang baik dan menyuruh selalu beribadah. Sehingga boleh dikatakan dia tidak mengenal maksiat seperti yang banyak dilakukan oleh pemuda lainnya. Namun ada satu hal yang menjadi keluh kesahnya selama ini, dan masih belum ia temukan jawabannya, yaitu ia tidak bisa khusuk setiap melaksanakan sholat.

Sekian lama ia mencari jawaban belum juga ketemu, hingga akhirnya dia membaca hadits di atas. Kemudian dia pun menemui orang tuanya dan menanyakan apakah selama ini pernah memberikan makan dari harta yang haram? Orang tuanya menjawab tidak pernah. Dia bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama, begitu juga orang tuanya, masih dengan jawaban yang sama yaitu tidak pernah. Tapi kemudian, ibunya menyela dan berkata bahwa dulu waktu sang ibu sedang hamil, pernah ada orang yang menitipkan susu kepadanya. Lalu, ia melihat ada tetesan susu yang mengalir di luar botol tersebut, karena ia sudah lama tidak minum susu, maka dijilatinya tetesan tersebut. Mendengar cerita tersebut, si anak pun bertanya mengenai siapa orang yang menitipkan susu tersebut, lalu dia pun mendatangi orang tersebut.

Setelah bertemu dengan orang yang menitipkan susu tersebut, sang anak pun bertanya apakah benar dia yang dulu pernah menitipkan susu kepada seorang ibu, dan orang tersebut mengingat-ingat dan menjawab benar. Lantas si anak tersebut menceritakan kisahnya, dan meminta agar orang tersebut merelakan tetesan susu yang dijilati sang ibu. Orang itu tertawa dan mengatakan bahwa, kalau cuma tetesan susu tersebut kenapa mesti minta izin? Kalau minta juga sudah pasti di kasi, keterlaluan jika tetesan susu diluar botolpun ia tidak rela. Namun setelah akhirnya dia pun menyampaikan kerelaannya secara lisan. Setelah itu, barulah si anak merasa bisa khusyuk dalam sholatnya.

Dari cerita tersebut, bisa dibayangkan bahkan hal kecil yang kita anggap sangat sepele dan tidak ada artinya itu pun bisa mendatangkan dampak buruk bagi seseorang, bahkan yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain. Namun tetap saja, pada saat ibu itu dulu menjilat tetesan susu tersebut, tetesan itu bukan miliknya dan dia belum meminta izin kepada yang berhak. Lantas bagaimana dengan keharaman yang lebih jelas dan lebih besar?

Setiap perbuatan dosa akan mendatangkan dampak buruk, namun terkadang kita tidak bisa menyadari dampak suatu perbuatan dosa tersebut. Hal ini bergantung kepada kondisi hati, jika hati kita bersih maka sedikit saja perbuatan dosa akan terasa dampaknya, jika hati sudah sangat kotor maka akan susah merasakan dampak suatu dosa. Ibarat penyakit, orang yang tubuhnya masih sehat, mendapat suatu penyakit ringan saja akan langsung terasa, namun orang yang ditubuhnya sudah bersarang banyak sekali penyakit tidak akan terasa jika tubuhnya mendapat penyakit lain.

Untuk itu, marilah kita menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Khusus mengenai harta yang haram, marilah kita menjaga dan membersihkan harta kita agar terhindar dari segala sesuatu yang haram.

Pastikan harta di dapat dari jalan yang benar, bukan hasil mencuri, korupsi, dan jalan haram lainnya.

Hati-hati terhadap riba,

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (karena sama-sama melakukan yang haram)” (HR. Muslim no. 1598).

Yang terakhir, jangan lupa berzakat, berinfaq, dan bershodaqoh.

Mari Bersihkan Harta…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s