Mari Berprasangka Baik

“Aku terhadap hamba-Ku tergantung dengan persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sekehendaknya”. HR. Bukhari dan Muslim

Kata orang, hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di bawah kadang di atas, kadang sedih namun tak jarang juga bahagia, dan seterusnya. Begitu juga dengan iman seseorang, kadang naik namun juga terkadang turun. Sungguh manusia itu makhluk yang lemah di hadapan sang Pencipta. Namun di sisi lain, ternyata di dunia ini ada manusia yang saking sombongnya merasa manusia itu sangat hebat, dan mengatakan Tuhan telah sirna. Inilah salah satu golongan Atheis dari sekian banyak golongan Atheis yang ada di muka bumi ini. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah sirna seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Kata mereka, dulu manusia meyakini adanya tuhan karena mereka lemah, belum mampu untuk melawan gejala alam seperti banjir, sehingga merasa ada kekuatan yang lebih hebat dari mereka. Kini manusia sudah bisa membuat bendungan, maka tidak perlu meyakini adanya yang Maha Kuasa. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sungguh aneh bukan? Padahal kehebatan ilmu dan teknologi manusia saat ini belum ada yang bisa membuat nyawa. Belum ada yang bisa menghidupkan manusia setelah mati. Bahkan belum ada yang mampu memprediksi terjadinya gempa secara akurat. Juga belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa mengontrol setiap kejadian di dunia ini, bahkan kejadian yang terjadi pada diri seseorang.

Back to topic. Kehidupan terus berjalan, siang berganti malam sebagaimana tangis berganti tawa, tak seorangpun yang mampu menahannya untuk terus di satu titik. Kita semua yakin bahwa ada suatu kekuatan Maha Dahsyat yang mengatur itu semua, Dia lah sang pemilik kehidupan. Manusia adalah ciptaanNya, karena itu seharusnya tidak boleh protes terhadap apapun yang diberikan Sang Pemilik kepadanya. Suka-suka Sang Pemilik aja mau diapain apa-apa yang dia punya. Tapi bukan Allah namanya kalau bukan Maha Adil, lihat saja, walaupun dia bisa suka-suka memberikan apapun terhadap kita, tapi dia juga telah memberikan keistimewaan terhadap kita. Keistimewaan ini membuat kita selalu bisa mendapatkan pahala atas kesusahan apapun dan juga kenikmatan apapun yang diberikan olehNya, keistimewaan itu berupa sabar dan syukur. Dengan sabar dan syukur, apapun yang menimpa tentu tidak akan membuat kita berprasangka buruk atau bahkan marah kepada Allah, karena kita sadar apapun itu bisa menambah perbendaharaan pahala di sisi Allah. Tinggal bagaimana kita, apakah mau bersabar dalam setiap kesusahan serta bersyukur atas setiap nikmat atau tidak. Sehingga sekali lagi, tidak ada alasan untuk berprasangka buruk terhadap Sang Pemilik kehidupan ini.

Rasanya baru kemaren aku merasa sedih karena suatu peluang mewujudkan keinginan sudah tertutup, namun cepat sekali keadaan berbalik, kini tanpa pernah aku fikirkan keadaan ini bisa terjadi, aku bahagia karena peluang itu kembali terbuka. Ke depannya aku tak tahu apakah giliran sedih atau bahagia yang datang, karena bukan aku yang mengatur, tapi Dia. Semoga aku selalu bisa berprasangka baik atas apapun yang Dia berikan. Sungguh akan amat sangat malu sekali kalau buru-buru berprasangka buruk, ternyata Allah telah menyiapkan sesuatu yang sama baiknya atau bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti episode hidupku ini.

Pikiran sangat mempengaruhi tindakan. Berprasangka baik terhadap seseorang, membuat kita selalu siap membalas sangkaan itu dengan perbuatan baik pula, begitulah fitrah manusia. Namun apabila kita berprasangka buruk terhadap seseorang, maka diri kita secara otomatis sudah menyiapkan sikap dingin, setengah emosi, tidak menghormati, dll saat menghadapi orang tersebut. Padahal orang itu belum pasti buruk seperti yang kita prasangkakan, tapi kitalah yang sudah pasti buruknya karena berprasangka buruk.

Mari, dalam menghadapi jalan kehidupan yang berlika-liku ini, kita siapkan senjata berupa sabar dan syukur serta tak lupa selalu berprasangka baik dengan sang Pencipta maupun sesama manusia, dengan begitu hidup akan terus terasa nikmat.

Nikmatnya makan minum saat berbuka puasa tentu lebih terasa dibandingkan nikmatnya makan minum di hari-hari biasa. Begitulah Allah memberikan cobaan dan rintangan agar kita bisa merasakan sensai Nikmat yang luar biasa saat berhasil melewatinya. Bayangkan apa jadinya hidup tanpa cobaan, rintangan, dan kesusahan? Tentu kita tak bisa merasakan kenikmatan seperti saat berbuka puasa, datar, hambar.


2 Comments on “Mari Berprasangka Baik”

  1. nikmatilah setiap proses, temukan & jemputlah yg terbaik yg sudah Allah siapkan utk bg said.. insyaAllah hati nurani adlh salah 1 teman terbaik.. smoga berhasil.

  2. Reblogged this on Catatan Perjalanan Hidup and commented:
    2 tulisan inilah yang kubaca berulang-ulang, di malam menjelang sidang KTI ku kala itu.. ++ “Mari Bersabar” tentunya.. Benarlah, dekat dengan penjual minyak wangi akan mendapatkan percikan wanginya.. aku mendapatkan buahnya di penghujung cerita, saat yudisium.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s