Do what you love, love what you do

Pernah beberapa kali terlintas di fikiran mengenai kalimat “Do what you love” dan juga lawannya yaitu “Love what you do”. Kalau harus memilih antara dua kalimat tersebut, rasa-rasanya semua orang akan memilih untuk menjalani kalimat pertama. Wajar saja, siapapun tentu ingin untuk bisa melakukan hal-hal yang dicintainya, tanpa harus terbebani untuk melakukan sesuatu yang tidak disenanginya. Bayangkan betapa indahnya hidup ini jika kita hanya melakukan apa yang kita cintai.. Travelling, Shopping, Eating..😀
Tapi, mungkinkah cerita di atas bisa terjadi di dunia ini? You tell me..

Sekarang topiknya dipersempit dulu, sehingga objeknya dispesifikkan menjadi pekerjaan. Hubungan antara pekerjaan dengan kedua kalimat tersebut lebih sering di bahas saat ini, bahkan terkadang menjadi dilema tersendiri dalam memilih pekerjaan dan jalan hidup. Jika ditanya apakah akan memilih untuk mencari pekerjaan yang dicintai, atau pekerjaan yang tidak dicintai (belum tentu dibenci) namun akan belajar untuk mencintai? Menjawab pertanyaan ini tidaklah semudah menjawab pertanyaan di awal tadi, karena ada berbagai faktor yang akan menjadi pertimbangan di balik pilihan itu. Jalan hidup tentu tidak selalu ideal, ideal yang dimaksud adalah sesuai dengan keinginan. Dalam kondisi Ideal misalnya, pekerjaan yang dicintai tersebut mungkin menghasilkan uang yang banyak, membuat kita tetap dekat dengan keluarga, memudahkan kita bergaul, dan sebagainya dan sebagainya, intinya pekerjaan itu mendukung semua hal-hal yang ingin diwujudkan dalam hidup. Jika seperti ini kondisinya, maka tak perlu mempertimbangkan pekerjaan lain juga kalimat “love what you do”, karena sudah pasti pilihan akan jatuh ke pekerjaan itu. Namun sayang seribu kali sayang, pucuk dicinta ulamnya ga jadi tiba. Ternyata pekerjaan yang dicintai menghasilkan uang yang lebih sedikit dari pekerjaan lain misalnya, atau bisa jadi pekerjaan yang dicintai dianggap kurang bergengsi dibanding yang lain, atau pekerjaan yang dicintai kurang wah di mata calon mertua😀, atau kemungkinan-kemungkinan kurang enak lainnya. Hayo, jadi milih yang mana? Aku jadi dilemaaaa..

But, that’s not the point. Tidak terlalu penting yang mana yang dipilih, apapun baik, yang tidak baik adalah yang malas-malasan tidak bekerja padahal mampu! Tidak perlu berlarut-larut dalam memilih padahal keduanya tidak mengandung unsur batil. Pilih saja dan jalani, insyaAllah apapun pilihannya ada jalan unik terbaik setelah menjalaninya. Terkadang kita baru tahu apa yang seharusnya kita jalani, setelah kita melangkah. Tapi kalau sudah jelas terdapat kebatilan, maka juga tidak usah ragu untuk meninggalkannya. Tidak usahlah bersusah payah menasehati orang dalam memilih yang begini (bukan antara haq dan batil), karena hidup mereka adalah misteri, bahkan hidupmu sendiri. Bisa jadi pekerjaan yang tidak dicintai itu ternyata setelah dijalani menjadi jalan menuju pekerjaan yang dicintai. Bisa jadi pula pekerjaan yang dicintai sekarang malah menimbulkan banyak cobaan hidup. Setiap pilihan mengandung kebahagiaan dan kesedihan tersendiri, memberi pelajaran hidup yang berbeda, mengukir pengalaman yang juga berbeda-beda. Namun hidup itu seperti kanvas bolak balik (emang ada ?), dunia boleh melukis dengan warna apapun di kanvas bagian belakang, baik warna cerah maupun gelap, tapi kitalah yang melukis di kanvas bagian depan, tentunya hanya dengan warna-warni yang bisa menginspirasi siapapun yang melihatnya.

Bekerja adalah ibadah. Maka pilihlah kalimat “love what you do”. Tapi kalimat “love what you do” tidak kontradiksi dengan kalimat “do what you love”. Maka tak ada salahnya kita “love what you do”, di mana “do” nya adalah “what you love”😀 *ga mau rugi. Belajarlah  lebih mencintai pekerjaan, bahkan pekerjaan yang memang kita cintai. Dengan begitu kita akan terus bergairah dan bekerja dengan sepenuh hati. Aku ingin berbagi kata-kata Paulo Coelho dalam bukunya The Winner Stands Alone yang berbunyi “Kalaupun kau melakukan hal yang sama berulang-ulang, kau perlu menemukan sesuatu yang baru, fantastis, serta luar biasa, yang sebelumnya terlewatkan”. Aku kira, kata-kata ini sangat cocok untuk pekerjaanku sekarang, Mengajar. Mengajar seolah-olah seperti rutinitas yang diulang-ulang setiap semester, bahkan tiap hari, membosankan bukan? Tapi jika melirik kata-kata bijak di atas, maka tentu itu bukanlah sebuah rutinitas biasa. Itu rutinitas yang penuh dengan pencarian hal-hal baru, di mana di setiap pencarian pasti ada kebahagiaan akan kemungkinan untuk menemukan yang dicari. Mungkin ini juga berlaku untuk jenis pekerjaan-pekerjaan lainnya..

Mari meningkatkan kecintaan pada pekerjaan, semoga dengan begitu akan meningkatkan keikhlasan dan produktifitas.

Mari bekerja..


2 Comments on “Do what you love, love what you do”

  1. jack says:

    tulisan yang menginspirasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s