Demi Nama Baik Agama dan Bangsa

Ini tulisan pertama setelah banyak hal yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Yup, sekarang statusku sudah tidak single (baru di FB, di KTP belum berubah), dan sekarang sudah bukan pengajar lagi tapi pelajar, dan tinggal di benua yang berbeda. Terkadang waktu terasa berlalu dengan monoton kadangkala terlalu dinamis. Dan aku sedang dalam kondisi yang sangat dinamis, bagaimana tidak, 1 bulan kuliah sudah ujian, dan 2 project sudah menanti. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kawan, kali ini sesuatu yang lebih besar, bukan tentang aku, tapi tentang bangsa dan agama.. haha.. Sepertinya kalimat terakhir agak aneh, lebih tepatnya lebay..🙂

Judul tulisan ini terinspirasi dari kisahku yang awalnya tinggal sendirian di apartemen, namun 2 minggu kemudian datanglah seorang teman yang mengisi kamar sebelah, kemudian tiba-tiba saja kalimat ini pun terpikirkan dengan sendirinya.

Demikianlah ceritanya. End.

Behind the scene…

Saat pertama sampai di apartemen, hati sudah dag-dig-dug, kira-kira teman apartemennya welcome ga ya, secara udah tau kalau di apartemen ada 2 kamar tidur, jadi mungkin sudah ada yang di sana. Ternyata eh ternyata, saat masuk ke dalam apartemen, semuanya keliatan bersih, yang menunjukkan bahwa belum ada penghuninya. Setelah satu harian di apartemen, aku yakin, memang sepertinya baru aku sendiri. Awalnya senang, karena menguasai semua fasilitas sendirian, tapi lama-lama kesepian juga. Saat sendiri, biasanya sebelum makan harus cuci piring dan peralatan masak dulu… yang artinya kalau sudah makan ga dicuci dulu, tapi dibiarkan aja sampai waktu makan berikutnya.. Malasnya aku. Barang-barang ditarok di berbagai tempat, di atas meja makan, meja belajar, kursi dll.

2 minggu kemudian…

Pulang dari rumah teman, tiba-tiba kulihat ada yang aneh dengan dapur, ternyata ada pertambahan jumlah barang yang jelas bukan punyaku.. Jeng Jeng, berarti ada orang, siapakah dia? Tak lama kemudian, bertemulah aku dengan sosok itu, ternyata orang dari negeri matador. Awal pertemuan yang baik, dan aku langsung meminta maaf karena dapurnya yang agak berantakan.

Hari-hari setelah awal pertemuan di atas..

Setiap makan langsung cuci piring dan peralatan masak, bersihin kompor. Kalau habis gunakan kamar mandi langsung dirapiin, dan dikeringin kalau ada air yang menetes-netes, dilap westafel*nulisnya gimana-nya, jadi serba bersih dan rapi. Kenapa begitu? Saat aku cerita ke isteriku, aku bilang, ini demi menjaga nama baik Agama dan Bangsa. Aku tidak ingin orang bukan islam, bahkan dia tak beragama, mendapat kesan bahwa ternyata orang Islam itu jorok, atau juga ternyata orang Indonesia itu menjijikkan… haha.. That’s it. Setidak-tidaknya walaupun aku tidak bisa mengangkat martabat agama dan bangsaku di mata dia, minimal aku tidak menjatuhkannya..

Mungkinkah ? Ketika berhadapan dengan orang yang sama sekali tidak mengenal, tertarik, bahkan mungkin sudah terprovokasi dengan berita buruk tentang Islam atau apapun dimana kita berafiliasi dengannya, sebuah sikap sederhana lebih baik dari banyaknya kata-kata? Mungkinkah itu disebut sebagai salah satu cara menyampaikan pesan kebaikan?


2 Comments on “Demi Nama Baik Agama dan Bangsa”

  1. kirain tulisan motivasi mang, hahaha
    like this tapi😀

    • prajuritillahi says:

      haha.. susah bikin tulisan motivasi, butuh experience dan pemikiran yang matang..
      Eh, masih di kampus mang?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s