Amsterdam Rasa Nusantara

Sedikit cerita tentang lingkungan tempat tinggalku sekarang di Amsterdam. Tinggal di sebuah apartment yang tergolong bagus, saking bagusnya, bisa dibilang lebih dari yang dibutuhkan. Fasilitas sangat lengkap, 1 toilet dengan shower, 1 toilet doang,  ruang laundry + mesin cuci,  living room + kitchen, kompor dengan 4 (apa sih namanya tungku kali ya), kulkas, microwave, TV, 2 bedrooms dan ditinggali hanya 2 orang. Yah, wajar saja harganya tergolong cukup mahal 471,92 Euros perbulan *tepokjidat. Apa boleh buat, ini adalah apartment yang disediakan oleh universitas bekerjasama dengan student housing company DUWO, jadi untuk awal-awal memang sangat memudahkan karena tidak perlu nyari sendiri.

Pertama keluar apartement ialah untuk pergi ke Student Information Centre untuk mengurusi administrasi, dan sungguh sangat terkejut karena melihat banyak sekali wanita memakai hijab. Aku tahu bahwa di Netherlands banyak muslimnya, tapi tidak menyangka akan secepat dan semudah itu bertemu dengan orang muslim. Belakangan ternyata ku ketahui bahwa di daerahku itu memang salah satu daerah yang banyak muslimnya di Amsterdam, selain Amsterdam barat. Alhamdulillah mencari makanan Halal sangat-sangat mudah sekali, karena toko Turki ada banyak di sini.

Di bawah ini adalah gambar peta yang diambil dari google maps, dan apartmentku di sekitar tanda A

Maps1

 

Tak jauh dari apartmentku adalah Kampusku UvA Science Park yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki beberapa menit. Sebenarnya ada hal yang lebih menarik di daerah tempatku tinggal, yang menginspirasi judul tulisan ini, Amsterdam rasa Nusantara. Ya, aku memang tinggal di Amsterdam, tapi kalau melihat nama-nama jalan di maps itu, rasanya seperti tinggal di Indonesia. Lihat maps di bawah untuk lebih jelasnya.

Maps2

 

Ada Balistraat (Jalan Bali), Sumatrastraat, Molukkenstraat (Maluku), Celebesstraat, Palembangstraat, Riouwstraat, Tidorestraat, Mataramstraat, Minahasastraat, Ambonstraat, Solostraat, Semarangstraat, Soembawastraat, Halmaherastraat,  Madurastraat, Lampongstraat, Niasstraat, Timorstraat, Bilitonstraat, Manadostraat, Ternatestraat, Lombokstraat, Borneostraat, Bankastraat, Atjehstraat, Boetonstraat, Karimatastraat, Baweanstraat, Padangstraat. Itulah yang terlihat di googlemaps, dan kadang kulihat langsung kalau lagi melintas di sana.

Di sini ada 2 masjid yang sering aku kunjungi, alhamdulillah dengan bantuan sepeda, jadi lebih mudah, hanya kurang dari 10 menit sudah sampai. Dan alhamdulillah di sini ketemu dengan saudara-saudara baru, memang benar kata-kata imam Syafi’i

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Tapi tetap saja, walau suasana di sini tak terlalu asing, kembali ke negeri sendiri tetap paling dinanti. Rindu hati bertemu keluarga, teman, dan terutama isteri.

 


One Comment on “Amsterdam Rasa Nusantara”

  1. hani says:

    Aslkum pak, bs minta tlg pak? mhon info kos2n dkt KIT Royal tropical institute. Kalo bs yg 1 kamar 1 org. Trmksh pak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s