Bangga dan Bersyukur Jadi Orang Indonesia

Kali ini adalah cerita tentang bagaimana timbulnya perasaan bangga dan bersyukur sebagai orang Indonesia. Sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Indonesia, aku tak yakin apa aku pernah benar-benar merasa bangga jadi warga negara Indonesia dan tinggal di Indonesia, tapi tidak berarti otomatis selama itu merasa hina, bukan, hanya saja mungkin belum ada atau sudah lupa momen-momen yang membuat bangga itu. Apakah cerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan membuat bangga sebagai warga negara Indonesia, entahlah aku tak yakin. Dan selama itu pula, rasanya kurang sekali bersyukur karena menjadi orang Indonesia dan tinggal di sana. Anehnya perasaan itu baru benar-benar muncul setelah tinggal sementara di negeri orang, yang jauh berbeda baik letak, suasana, maupun budaya.

Memang betul kalau manusia memang suka lupa bersyukur atas banyak sekali nikmat yang ada sampai ia tak lagi merasakannya. Namun, pindah sebentar ke negeri orang tak serta merta memunculkan rasa bangga itu, ia baru muncul setelah bergaul dan berbagi cerita dengan saudara-saudara baru di sini. Kata orang negeri-negeri di Eropa itu indah, nyaman, canggih, teratur, dan berbagai pujian lainnya. Mungkin memang ia, keliatannya seperti itu, khusus di Amsterdam bisa terbilang indah bangunannya, nyaman suasananya, canggih fasilitas-fasilitasnya, teratur administrasinya, walaupun mungkin bukan yang paling, tapi setidaknya lebih dari Indonesia secara umum. Tapi jujur, aku tak terlalu memperhatikan hal-hal itu, entah kenapa tak terlalu menarik bagiku menikmati keindahan dan kecanggihan kota, lebih menarik dan lebih perlu adalah berjumpa saudara-saudara dan teman baru. Kalau untuk menikmati keindahan kota, aku mungkin bisa datang berjalan-jalan sebentar suatu saat nanti, seperti halnya orang-orang kaya yang liburan keliling Eropa haha, tapi bertemu dan bersahabat dengan saudara-saudara baru, tentu perlu waktu. Kenapa aku bilang bahwa berjumpa saudara-saudara baru itu lebih perlu? Ya, tentu saja selain punya teman baru, bisa saling membantu, dan yang paling penting, ini Eropa kawan, negara bebas, kalau tak pandai-pandai jaga iman bisa terpeleset kawan. Alasan terakhir ini yang paling penting, mendapatkan saudara-saudara yang sholeh merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan sebagai bentuk penjagaan atas diriku. Dan Alhamdulillah dengan berbagai cara yang unik, aku bertemu dengan banyak saudara-saudara yang sholeh di sini.

Hei, mana bagian bangganya? haha.. iya kepanjangan, ga sampai-sampai ke inti ceritanya. Bagian bangga dimulai ketika bercerita dengan saudara-saudara di sini, yang kebanyakan adalah warganegara Belanda, walau keturunan macam-macam. Mereka mengatakan lebih baik di Indonesia daripada di sini, dan menyarakankan agar aku tidak terus tinggal di sini. Mereka sendiri berkeinginan untuk tinggal di Indonesia. Aneh bukan? Ya, awalnya, tapi akhirnya aku sadar, mereka sangat mementingkan untuk menjaga iman dari pada sekedar keindahan dan kecanggihan semu di sini. Tinggal di sini sungguh tak mudah kawan, tak mudah untuk menjaga pandangan dan iman, tak mudah untuk selalu sholat di masjid kawan. Di musim panas ini kan kau dapati orang berbikini di tengah hari di pinggir jalan kawan, atau pakai rok mini berbelah dada naik sepeda kawan, bahkan berjemur seksi di bawah apartemen terpampang dari jendela kamarmu kawan, sungguh tak mudah jaga pandangan dan iman bukan. Pemandangan itu hadir tanpa kau usaha untuk mencarinya kawan, bahkan susah untuk kau hindari kalau naik sepeda karena bahaya kawan (ingat pilem Negeri 5 Menara). Masjid walaupun ada tapi tak sebanyak di Indonesia kawan, dan jangan kau harap dengar suara Adzan, kalau kau tak lihat jam, pasang alarm, foto jadwal sholat, kau kan terlambat kawan. Di kantor-kantor juga tak ada mushola apalagi masjid seperti di Indonesia, bayangkan kawan, perjuangan muslim di sini menjaga dan menegakkan agamanya kawan. Itulah mengapa mereka suka dengan Indonesia walau kata orang negaranya tak seindah, tak senyaman, tak secanggih, tak seteratur negara-negara di sini, tapi kau kan lebih mudah beribadah dan menjaga iman dan agamamu kawan. Jadi bersyukurlah, bersyukur karena tinggal di Indonesia, negara aman tenteram tidak dalam perang, beribadah mudah masjid di mana-mana, pemandangan dan fitnah tidak sekejam di sini.

Advertisements

Amsterdam Rasa Nusantara

Sedikit cerita tentang lingkungan tempat tinggalku sekarang di Amsterdam. Tinggal di sebuah apartment yang tergolong bagus, saking bagusnya, bisa dibilang lebih dari yang dibutuhkan. Fasilitas sangat lengkap, 1 toilet dengan shower, 1 toilet doang,  ruang laundry + mesin cuci,  living room + kitchen, kompor dengan 4 (apa sih namanya tungku kali ya), kulkas, microwave, TV, 2 bedrooms dan ditinggali hanya 2 orang. Yah, wajar saja harganya tergolong cukup mahal 471,92 Euros perbulan *tepokjidat. Apa boleh buat, ini adalah apartment yang disediakan oleh universitas bekerjasama dengan student housing company DUWO, jadi untuk awal-awal memang sangat memudahkan karena tidak perlu nyari sendiri.

Pertama keluar apartement ialah untuk pergi ke Student Information Centre untuk mengurusi administrasi, dan sungguh sangat terkejut karena melihat banyak sekali wanita memakai hijab. Aku tahu bahwa di Netherlands banyak muslimnya, tapi tidak menyangka akan secepat dan semudah itu bertemu dengan orang muslim. Belakangan ternyata ku ketahui bahwa di daerahku itu memang salah satu daerah yang banyak muslimnya di Amsterdam, selain Amsterdam barat. Alhamdulillah mencari makanan Halal sangat-sangat mudah sekali, karena toko Turki ada banyak di sini.

Di bawah ini adalah gambar peta yang diambil dari google maps, dan apartmentku di sekitar tanda A

Maps1

 

Tak jauh dari apartmentku adalah Kampusku UvA Science Park yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki beberapa menit. Sebenarnya ada hal yang lebih menarik di daerah tempatku tinggal, yang menginspirasi judul tulisan ini, Amsterdam rasa Nusantara. Ya, aku memang tinggal di Amsterdam, tapi kalau melihat nama-nama jalan di maps itu, rasanya seperti tinggal di Indonesia. Lihat maps di bawah untuk lebih jelasnya.

Maps2

 

Ada Balistraat (Jalan Bali), Sumatrastraat, Molukkenstraat (Maluku), Celebesstraat, Palembangstraat, Riouwstraat, Tidorestraat, Mataramstraat, Minahasastraat, Ambonstraat, Solostraat, Semarangstraat, Soembawastraat, Halmaherastraat,  Madurastraat, Lampongstraat, Niasstraat, Timorstraat, Bilitonstraat, Manadostraat, Ternatestraat, Lombokstraat, Borneostraat, Bankastraat, Atjehstraat, Boetonstraat, Karimatastraat, Baweanstraat, Padangstraat. Itulah yang terlihat di googlemaps, dan kadang kulihat langsung kalau lagi melintas di sana.

Di sini ada 2 masjid yang sering aku kunjungi, alhamdulillah dengan bantuan sepeda, jadi lebih mudah, hanya kurang dari 10 menit sudah sampai. Dan alhamdulillah di sini ketemu dengan saudara-saudara baru, memang benar kata-kata imam Syafi’i

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Tapi tetap saja, walau suasana di sini tak terlalu asing, kembali ke negeri sendiri tetap paling dinanti. Rindu hati bertemu keluarga, teman, dan terutama isteri.

 


Demi Nama Baik Agama dan Bangsa

Ini tulisan pertama setelah banyak hal yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Yup, sekarang statusku sudah tidak single (baru di FB, di KTP belum berubah), dan sekarang sudah bukan pengajar lagi tapi pelajar, dan tinggal di benua yang berbeda. Terkadang waktu terasa berlalu dengan monoton kadangkala terlalu dinamis. Dan aku sedang dalam kondisi yang sangat dinamis, bagaimana tidak, 1 bulan kuliah sudah ujian, dan 2 project sudah menanti. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kawan, kali ini sesuatu yang lebih besar, bukan tentang aku, tapi tentang bangsa dan agama.. haha.. Sepertinya kalimat terakhir agak aneh, lebih tepatnya lebay.. 🙂

Judul tulisan ini terinspirasi dari kisahku yang awalnya tinggal sendirian di apartemen, namun 2 minggu kemudian datanglah seorang teman yang mengisi kamar sebelah, kemudian tiba-tiba saja kalimat ini pun terpikirkan dengan sendirinya.

Demikianlah ceritanya. End.

Behind the scene…

Saat pertama sampai di apartemen, hati sudah dag-dig-dug, kira-kira teman apartemennya welcome ga ya, secara udah tau kalau di apartemen ada 2 kamar tidur, jadi mungkin sudah ada yang di sana. Ternyata eh ternyata, saat masuk ke dalam apartemen, semuanya keliatan bersih, yang menunjukkan bahwa belum ada penghuninya. Setelah satu harian di apartemen, aku yakin, memang sepertinya baru aku sendiri. Awalnya senang, karena menguasai semua fasilitas sendirian, tapi lama-lama kesepian juga. Saat sendiri, biasanya sebelum makan harus cuci piring dan peralatan masak dulu… yang artinya kalau sudah makan ga dicuci dulu, tapi dibiarkan aja sampai waktu makan berikutnya.. Malasnya aku. Barang-barang ditarok di berbagai tempat, di atas meja makan, meja belajar, kursi dll.

2 minggu kemudian…

Pulang dari rumah teman, tiba-tiba kulihat ada yang aneh dengan dapur, ternyata ada pertambahan jumlah barang yang jelas bukan punyaku.. Jeng Jeng, berarti ada orang, siapakah dia? Tak lama kemudian, bertemulah aku dengan sosok itu, ternyata orang dari negeri matador. Awal pertemuan yang baik, dan aku langsung meminta maaf karena dapurnya yang agak berantakan.

Hari-hari setelah awal pertemuan di atas..

Setiap makan langsung cuci piring dan peralatan masak, bersihin kompor. Kalau habis gunakan kamar mandi langsung dirapiin, dan dikeringin kalau ada air yang menetes-netes, dilap westafel*nulisnya gimana-nya, jadi serba bersih dan rapi. Kenapa begitu? Saat aku cerita ke isteriku, aku bilang, ini demi menjaga nama baik Agama dan Bangsa. Aku tidak ingin orang bukan islam, bahkan dia tak beragama, mendapat kesan bahwa ternyata orang Islam itu jorok, atau juga ternyata orang Indonesia itu menjijikkan… haha.. That’s it. Setidak-tidaknya walaupun aku tidak bisa mengangkat martabat agama dan bangsaku di mata dia, minimal aku tidak menjatuhkannya..

Mungkinkah ? Ketika berhadapan dengan orang yang sama sekali tidak mengenal, tertarik, bahkan mungkin sudah terprovokasi dengan berita buruk tentang Islam atau apapun dimana kita berafiliasi dengannya, sebuah sikap sederhana lebih baik dari banyaknya kata-kata? Mungkinkah itu disebut sebagai salah satu cara menyampaikan pesan kebaikan?


Perjalanan Menyaksikan Aktualisasi Cinta 2 Manusia

Tulisan ini dibuat selagi dalam perjalanan dari Bandung menuju Surabaya dengan kereta Argo Wilis. Tujuan perjalanan ini adalah menghadiri undangan pernikahan dua orang sahabat yang bertempat di Bondowoso. Dari namanya sudah terdengar asing, tentu jauh 😀 Yap, cukup jauh, total dibutuhkan 17 jam perjalanan untuk sampai ke Bondowoso.

Sambil menikmati perjalanan, melihat ke luar kereta dari jendela di sisi kanan, aku mengingat-ingat kembali sudah berapa banyak perjalanan ke luar kota yang kutempuh dengan tujuan serupa, yaitu menghadiri acara pernikahan teman. Aku lupa urutannya mana yang dulu, tapi kuusahakan menuliskannya terurut, bahkan mungkin masih ada yang terlupakan.

Pertama adalah menghadiri pernikahan mas Bijak Fajar Putranto seorang teman, senior sekaligus ketua organisasi tempat aku berkecimpung selama kuliah dulu. Bertempat di Depok, di masjid kubah Emas. Lalu mas Tamami Effendi, seorang teman yang menikah dengan temanku juga Anita Kusumaningtyas, bertempat di Jogjakarta, tepatnya di Gunung Kidul. Selanjutnya konvoi sepeda motor bersama rekan-rekan dosen Politeknik Telkom menuju Cianjur untuk menghadiri pernikahan Hendra Setiawan, teman mengajar di Poltek Telkom. Ada lagi perjalanan menuju Lampung dalam rangka menghadiri teman satu kosan, Wiandi Fazzar. Perjalanan yang cukup jauh, menghabiskan waktu sekitar 10 Jam, tapi mengasyikkan. Masih ada lagi, yaitu bersama rombongan Dosen ITTelkom menghadiri pernikahan Mba Rita Rismala yang juga rekan dosen yang bertempat di Ciamis. Terakhir sebelum perjalanan ini adalah menghadiri pernikahan Mas Faqih yang bertempat di Tangerang. Dan yang sedang dijalani sekarang adalah menuju pernikahan Mba Untari dan Mas Chafid, yang keduanya ada temanku. Jadi total kira-kira sudah mengunjungi 7 kota berbeda untuk menghadiri pernikahan teman-temanku. Tentunya jumlah pernikahan teman yang kukunjungi lebih dari itu, karena yang mengadakan acara di Bandung tidak dihitung 😀 Sungguh, melihat raut wajah teman yang berbinar-binar karena bahagia selalu membuatku turut bahagia. Semoga selalu menjadi keluarga yang berada dalam hidayah, rahmat, dan lindungan Allah SWT.

Oh ya, masih ada satu yang terlewat, yaitu yang lebih dulu dari Mas Bijak, yaitu Mas Erfan Fiddin yang melaksanakan acara pernikahan di Jakarta. Waktu itu perginya menggunakan Bus bersama teman-teman. Jadi total jumlah kotanya nambah 1 jadi 8 kota. Kira-kira selanjutnya kota mana lagi ya? Ayo-ayo mana lagi undangannya? Semoga diberi rizki dan kesempatan untuk bisa menghadiri hari bahagia teman-teman semua.

Hmm, edit lagi, Cimahi itu luar kota Bandung bukan? Kalau itu di hitung luar kota, berarti nambah 1 kota lagi yang sudah kukunjungi, jadi 9. Di Cimahi ada 2 pernikahan, yaitu Bayu Rimba dengan Teh Rani, dan Isa Albana dengan Eka mardila. Semoga berbahagia kawan.


Decision is yours

Sebenarnya setiap apa pun yang terjadi selalu bisa ditanggapi dengan berbagai respon, dan kitalah yang menentukan jenis respon yang ingin kita gunakan. Ketika orang yang sangat kita cintai melanjutkan perjalanannya ke alam yang lain, kita bisa sedih namun kita juga bisa senang. Ketika kita dibikin kesal oleh seseorang atau sesuatu, kita bisa marah atau kita juga bisa bersabar. Ketika kita ditabrak dan luka memar, kita bisa marah namun kita juga bisa bersyukur. Ketika murid membandel, kita bisa cuek atau kita juga bisa termotivasi untuk merubah. Ketika sesuatu yang diinginkan belum tercapai, kita bisa putus asa namun kita juga bisa memilih untuk lebih gigih berusaha. Kalau dipersempit, jenis respon-respon yang bisa kita pilih bisa digolongkan ke dalam dua kategori yaitu positif dan negatif.

You know that every response we choose is our decision, our responsibility, and will affect ourselves(may be others too). But the point is We not They. So, actually other people will never make us become a worse person until we “decide/agree” to be worse, and so does with to be a better person.

Ketika kita marah, mungkin kita merasa benar untuk marah, berhak untuk marah, karena memang mereka yang salah. Tapi sadarkah kita bahwa marah dengan nafsu tidak membuat kita lebih baik, bahkan sebaliknya? Marah membuat kita mudah mengeluarkan kata-kata kotor, mengungkap berbagai kejelekan orang lain, membuat kelakuan menjadi tidak terkontrol, yang pada akhirnya mempermalukan diri sendiri. Apakah orang yang kita marahi menjadi pribadi yang lebih buruk? Belum tentu, sekali lagi tergantung bagaimana ia menanggapinya. Bagaimana kalau kita ganti marah dengan sikap sabar, berfikir positif, mencari alasan-alasan positif, memaklumi, tentu akan menjadikan kita lebih baik, lebih tenang, berfikir lebih jernih, dan akhirnya mengangkat harga diri kita sendiri.

Tapi tahukan anda bahwa memilih antara dua pilihan tersebut tidak mudah? Setidaknya begitulah menurutku. Ia perlu dilatih, dilatih, dan dilatih. Ia perlu terus difikirkan bahwa kita ingin memilih respon dari kategori positif, terus fikirkan. Setiap ada kejadian apapun, ingat bahwa kita sedang latihan, latihan memilih respon positif, terus begitu, sehingga jika telah terbiasa maka secara otomatis kita akan selalu memilih respon positif.

I was inspired to post this because of my journey to Jakarta yesterday. Aku pulang dengan tangan hampa, karena berkasku tidak ditemukan, padahal itu adalah berkas kedua yang ku serahkan. Tapi Alhamdulillah, jadi dekat sama mas-mas dan mba-mba yang ngurusin. Bahkan di ajak masuk ke ruangan, ngobrol, becanda, dan diajak nonton James Bond (tapi ga mau, karena mau pulang Bandung), dan dikasi tau bahwa nanti akan ditelpon tentang kabar berkasnya. Kalau saja kemaren aku pasang muka kesel duluan, tentu sikapku tidak akan ramah kepada mereka, dan mereka pun tidak akan ramah padaku. Dan setelah aku masuk ruangan, aku tahu bahwa mereka sangat sibuk sekali. Tidak ada yang santai-santai, mereka tampak stress karena load kerjaan yang mereka handle. Sampai jam 12.30 pas aku pamit pulang, mereka belum juga istirahat, masih membuat surat, mencari ini itu, dan sebagainya. Dan satu lagi, isi ruangan kerja mereka penuh dengan tumpukan berkas di mana-mana. Sampai-sampai aku sempat bercanda dengan salah satu petugas, kira-kira kalau diloakin semua dapat beli apa ya? Dapat beli motor kata mas-masnya.. 😀

Jadi, walaupun pulang dengan tangan kosong, alhamdulillah hatiku tak sekosong tanganku. Aku senang, akhirnya bisa memilih respon positif. Semoga berhasil di kejadian-kejadian berikutnya.

Mari berlatih memilih respon positif.


Do what you love, love what you do

Pernah beberapa kali terlintas di fikiran mengenai kalimat “Do what you love” dan juga lawannya yaitu “Love what you do”. Kalau harus memilih antara dua kalimat tersebut, rasa-rasanya semua orang akan memilih untuk menjalani kalimat pertama. Wajar saja, siapapun tentu ingin untuk bisa melakukan hal-hal yang dicintainya, tanpa harus terbebani untuk melakukan sesuatu yang tidak disenanginya. Bayangkan betapa indahnya hidup ini jika kita hanya melakukan apa yang kita cintai.. Travelling, Shopping, Eating.. 😀
Tapi, mungkinkah cerita di atas bisa terjadi di dunia ini? You tell me..

Sekarang topiknya dipersempit dulu, sehingga objeknya dispesifikkan menjadi pekerjaan. Hubungan antara pekerjaan dengan kedua kalimat tersebut lebih sering di bahas saat ini, bahkan terkadang menjadi dilema tersendiri dalam memilih pekerjaan dan jalan hidup. Jika ditanya apakah akan memilih untuk mencari pekerjaan yang dicintai, atau pekerjaan yang tidak dicintai (belum tentu dibenci) namun akan belajar untuk mencintai? Menjawab pertanyaan ini tidaklah semudah menjawab pertanyaan di awal tadi, karena ada berbagai faktor yang akan menjadi pertimbangan di balik pilihan itu. Jalan hidup tentu tidak selalu ideal, ideal yang dimaksud adalah sesuai dengan keinginan. Dalam kondisi Ideal misalnya, pekerjaan yang dicintai tersebut mungkin menghasilkan uang yang banyak, membuat kita tetap dekat dengan keluarga, memudahkan kita bergaul, dan sebagainya dan sebagainya, intinya pekerjaan itu mendukung semua hal-hal yang ingin diwujudkan dalam hidup. Jika seperti ini kondisinya, maka tak perlu mempertimbangkan pekerjaan lain juga kalimat “love what you do”, karena sudah pasti pilihan akan jatuh ke pekerjaan itu. Namun sayang seribu kali sayang, pucuk dicinta ulamnya ga jadi tiba. Ternyata pekerjaan yang dicintai menghasilkan uang yang lebih sedikit dari pekerjaan lain misalnya, atau bisa jadi pekerjaan yang dicintai dianggap kurang bergengsi dibanding yang lain, atau pekerjaan yang dicintai kurang wah di mata calon mertua :D, atau kemungkinan-kemungkinan kurang enak lainnya. Hayo, jadi milih yang mana? Aku jadi dilemaaaa..

But, that’s not the point. Tidak terlalu penting yang mana yang dipilih, apapun baik, yang tidak baik adalah yang malas-malasan tidak bekerja padahal mampu! Tidak perlu berlarut-larut dalam memilih padahal keduanya tidak mengandung unsur batil. Pilih saja dan jalani, insyaAllah apapun pilihannya ada jalan unik terbaik setelah menjalaninya. Terkadang kita baru tahu apa yang seharusnya kita jalani, setelah kita melangkah. Tapi kalau sudah jelas terdapat kebatilan, maka juga tidak usah ragu untuk meninggalkannya. Tidak usahlah bersusah payah menasehati orang dalam memilih yang begini (bukan antara haq dan batil), karena hidup mereka adalah misteri, bahkan hidupmu sendiri. Bisa jadi pekerjaan yang tidak dicintai itu ternyata setelah dijalani menjadi jalan menuju pekerjaan yang dicintai. Bisa jadi pula pekerjaan yang dicintai sekarang malah menimbulkan banyak cobaan hidup. Setiap pilihan mengandung kebahagiaan dan kesedihan tersendiri, memberi pelajaran hidup yang berbeda, mengukir pengalaman yang juga berbeda-beda. Namun hidup itu seperti kanvas bolak balik (emang ada ?), dunia boleh melukis dengan warna apapun di kanvas bagian belakang, baik warna cerah maupun gelap, tapi kitalah yang melukis di kanvas bagian depan, tentunya hanya dengan warna-warni yang bisa menginspirasi siapapun yang melihatnya.

Bekerja adalah ibadah. Maka pilihlah kalimat “love what you do”. Tapi kalimat “love what you do” tidak kontradiksi dengan kalimat “do what you love”. Maka tak ada salahnya kita “love what you do”, di mana “do” nya adalah “what you love” 😀 *ga mau rugi. Belajarlah  lebih mencintai pekerjaan, bahkan pekerjaan yang memang kita cintai. Dengan begitu kita akan terus bergairah dan bekerja dengan sepenuh hati. Aku ingin berbagi kata-kata Paulo Coelho dalam bukunya The Winner Stands Alone yang berbunyi “Kalaupun kau melakukan hal yang sama berulang-ulang, kau perlu menemukan sesuatu yang baru, fantastis, serta luar biasa, yang sebelumnya terlewatkan”. Aku kira, kata-kata ini sangat cocok untuk pekerjaanku sekarang, Mengajar. Mengajar seolah-olah seperti rutinitas yang diulang-ulang setiap semester, bahkan tiap hari, membosankan bukan? Tapi jika melirik kata-kata bijak di atas, maka tentu itu bukanlah sebuah rutinitas biasa. Itu rutinitas yang penuh dengan pencarian hal-hal baru, di mana di setiap pencarian pasti ada kebahagiaan akan kemungkinan untuk menemukan yang dicari. Mungkin ini juga berlaku untuk jenis pekerjaan-pekerjaan lainnya..

Mari meningkatkan kecintaan pada pekerjaan, semoga dengan begitu akan meningkatkan keikhlasan dan produktifitas.

Mari bekerja..


Mari Berprasangka Baik

“Aku terhadap hamba-Ku tergantung dengan persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sekehendaknya”. HR. Bukhari dan Muslim

Kata orang, hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di bawah kadang di atas, kadang sedih namun tak jarang juga bahagia, dan seterusnya. Begitu juga dengan iman seseorang, kadang naik namun juga terkadang turun. Sungguh manusia itu makhluk yang lemah di hadapan sang Pencipta. Namun di sisi lain, ternyata di dunia ini ada manusia yang saking sombongnya merasa manusia itu sangat hebat, dan mengatakan Tuhan telah sirna. Inilah salah satu golongan Atheis dari sekian banyak golongan Atheis yang ada di muka bumi ini. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah sirna seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Kata mereka, dulu manusia meyakini adanya tuhan karena mereka lemah, belum mampu untuk melawan gejala alam seperti banjir, sehingga merasa ada kekuatan yang lebih hebat dari mereka. Kini manusia sudah bisa membuat bendungan, maka tidak perlu meyakini adanya yang Maha Kuasa. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sungguh aneh bukan? Padahal kehebatan ilmu dan teknologi manusia saat ini belum ada yang bisa membuat nyawa. Belum ada yang bisa menghidupkan manusia setelah mati. Bahkan belum ada yang mampu memprediksi terjadinya gempa secara akurat. Juga belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa mengontrol setiap kejadian di dunia ini, bahkan kejadian yang terjadi pada diri seseorang.

Back to topic. Kehidupan terus berjalan, siang berganti malam sebagaimana tangis berganti tawa, tak seorangpun yang mampu menahannya untuk terus di satu titik. Kita semua yakin bahwa ada suatu kekuatan Maha Dahsyat yang mengatur itu semua, Dia lah sang pemilik kehidupan. Manusia adalah ciptaanNya, karena itu seharusnya tidak boleh protes terhadap apapun yang diberikan Sang Pemilik kepadanya. Suka-suka Sang Pemilik aja mau diapain apa-apa yang dia punya. Tapi bukan Allah namanya kalau bukan Maha Adil, lihat saja, walaupun dia bisa suka-suka memberikan apapun terhadap kita, tapi dia juga telah memberikan keistimewaan terhadap kita. Keistimewaan ini membuat kita selalu bisa mendapatkan pahala atas kesusahan apapun dan juga kenikmatan apapun yang diberikan olehNya, keistimewaan itu berupa sabar dan syukur. Dengan sabar dan syukur, apapun yang menimpa tentu tidak akan membuat kita berprasangka buruk atau bahkan marah kepada Allah, karena kita sadar apapun itu bisa menambah perbendaharaan pahala di sisi Allah. Tinggal bagaimana kita, apakah mau bersabar dalam setiap kesusahan serta bersyukur atas setiap nikmat atau tidak. Sehingga sekali lagi, tidak ada alasan untuk berprasangka buruk terhadap Sang Pemilik kehidupan ini.

Rasanya baru kemaren aku merasa sedih karena suatu peluang mewujudkan keinginan sudah tertutup, namun cepat sekali keadaan berbalik, kini tanpa pernah aku fikirkan keadaan ini bisa terjadi, aku bahagia karena peluang itu kembali terbuka. Ke depannya aku tak tahu apakah giliran sedih atau bahagia yang datang, karena bukan aku yang mengatur, tapi Dia. Semoga aku selalu bisa berprasangka baik atas apapun yang Dia berikan. Sungguh akan amat sangat malu sekali kalau buru-buru berprasangka buruk, ternyata Allah telah menyiapkan sesuatu yang sama baiknya atau bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti episode hidupku ini.

Pikiran sangat mempengaruhi tindakan. Berprasangka baik terhadap seseorang, membuat kita selalu siap membalas sangkaan itu dengan perbuatan baik pula, begitulah fitrah manusia. Namun apabila kita berprasangka buruk terhadap seseorang, maka diri kita secara otomatis sudah menyiapkan sikap dingin, setengah emosi, tidak menghormati, dll saat menghadapi orang tersebut. Padahal orang itu belum pasti buruk seperti yang kita prasangkakan, tapi kitalah yang sudah pasti buruknya karena berprasangka buruk.

Mari, dalam menghadapi jalan kehidupan yang berlika-liku ini, kita siapkan senjata berupa sabar dan syukur serta tak lupa selalu berprasangka baik dengan sang Pencipta maupun sesama manusia, dengan begitu hidup akan terus terasa nikmat.

Nikmatnya makan minum saat berbuka puasa tentu lebih terasa dibandingkan nikmatnya makan minum di hari-hari biasa. Begitulah Allah memberikan cobaan dan rintangan agar kita bisa merasakan sensai Nikmat yang luar biasa saat berhasil melewatinya. Bayangkan apa jadinya hidup tanpa cobaan, rintangan, dan kesusahan? Tentu kita tak bisa merasakan kenikmatan seperti saat berbuka puasa, datar, hambar.