Dunia oh Dunia

Dunia memang sungguh menipu bagi kebanyakan manusia, keinginan akan harta, ketakutan akan miskin, syahwat terhadap wanita, kerakusan pada jabatan, perasaan hina karena status sosial, mengejar popularitas,  sering membuat kita lalai dalam mengingat Allah. Kesibukan akan pekerjaan di kantor, mengurusi usaha, sibuk urusan sekolah, jungkir balik demi karir, dan berbagai kegiatan keduniaan membuat kita seolah-olah tak punya waktu untuk belajar tentang agama. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Padahal kita semua yang mengaku muslim tahu dan yakin bahwa kita suatu saat akan mati dan kemudian akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan selama di dunia. Mari luangkan waktu sejenak untuk mengingat akan hal ini. Pikirkan baik-baik, tanamkan dalam jiwa, dan ulangi sesering mungkin, agar menjadi pengingat kita akan negeri akhirat. Apa hakikat dunia sebenarnya?

Kata Rosulullah, hakikat dunia di sisi Allah lebih hina dari pada bangkai kambing yang telinganya cacat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammelewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata,“Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])

Bayangkan, lebih hina dari bangkai kambing cacat, tapi kenapa banyak manusia berlomba-lomba gontok-gontokan mengejarnya? Setidak-tidaknya, ingatkan diri kita dan keluarga kita untuk berhenti mengejar dunia. Ingatkan diri kita dan keluarga kita betapa hina dan tidak berharganya dunia itu di sisi Allah. Cukup, berhentilah mengejar dunia, yang telah berlalu biarlah berlalu, mari kita atur masa depan yang lebih baik 🙂

Kadang kita merasa tidak terlalu mengejar dunia, tapi ternyata kita terlalu menikmati dunia. Kita tidak ngotot menumpuk harta, tapi terlalu terbuai oleh harta yang sudah kita punya, kita memang tidak berminat mendapatkan jabatan, tetapi terlalu terlena dengan jabatan yang ada, yang semuanya bermuara pada lalainya kita pada Agama. Agama seperti pelengkap saja dalam menikmati dunia, bukan yang utama. Hidup santai seperti ini juga bukanlah yang seharusnya kita jalani. Apa hakikat hidup di dunia ini?

Hakikat hidup di dunia adalah seperti layaknya seorang yang asing atau musafir.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al- Bukhariy no.6416)

Seorang musafir tau bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggalnya. Ia menyadari bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menuju suatu tujuan akhir. Untuk bisa sampai ke tujuan dengan selamat, maka dia harus tau jalan yang benar, dia harus punya cahaya penerang dan pengetahuan yang menunjukkannya akan keadaan jalan, di mana ada rintangan, di mana jalan pintas, mana-mana saja jalan yang salah, kalau dia bertemu rintangan apa yang harus dilakukan dan sebagainya, dan yang terakhir adalah dia harus bergerak, setelah dia tahu tujuan dan pengetahuan tentang bagaimana menuju tujuannya, maka dia tidak akan bisa sampai dengan hanya berdiam diri, melainkan harus bergerak dan berjalan. Demikianlah perumpamaan orang yang hidup di dunia. Tujuannya adalah akhirat, maka jalan yang benar adalah islam dengan cara berislam yang benar, bukan jalan-jalan berbagai kelompok yang menyimpang, cahaya penerangnya adalah ilmu agama, yang akan membuatnya mengerti bagaimana menempuh jalan yang benar, apa saja rintangan dalam beragama, apa saja kelompok-kelompok yang sesat dan menyimpang, mana-mana jalan yang membuatnya lebih dekat dan di ridhoi Allah, mana-mana perbuatan yang membuatnya semakin menjauh dari tujuan, dan yang terakhir dia harus beramal dengan ilmunya untuk mencapai tujuan tersebut. Demikianlah hakikat hidup di dunia, bukan untuk mengejar dunia, bukan juga untuk menikmatinya, karena dunia bukanlah tujuan kita.

Maka seharusnya setiap diri kita antusias dalam memikirkan akhirat, menimba ilmu agama, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan berusaha mendakwahkan agama ini. Memang setiap orang tidak harus menjadi ‘ulama, tapi tiap orang wajib untuk mempelajari agama ini dan mengamalkan sesuai kemampuannya. Mari menimba ilmu, ilmu akan menjagamu sementara harta engkau yang menjaganya.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.”

Mari sadar dan ingatkan diri kita, bahwa dunia bukanlah tempat kita, jangan tertipu, jangan terlena, jangan berhasrat mengejarnya, jangan pula terlalu menikmati dan mencintainya, sesungguhnya kita sedang berjalan di suatu tempat yang sangat hina, di mana banyak ranjau berserakan, banyak jalan yang menyesatkan, banyak tipu muslihat yang menistakan, apa yang nikmat bisa jadi sebenarnya racun, dan apa yang pahit sebenarnya adalah obat. Pengetahuan akan hakikat hal-hal ini hanya didapat dari ilmu agama yang akan menerangi jalan untuk sampai pada tujuan. Mari berhenti menikmati dunia, karena ia sungguh hina.


Bangga dan Bersyukur Jadi Orang Indonesia

Kali ini adalah cerita tentang bagaimana timbulnya perasaan bangga dan bersyukur sebagai orang Indonesia. Sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Indonesia, aku tak yakin apa aku pernah benar-benar merasa bangga jadi warga negara Indonesia dan tinggal di Indonesia, tapi tidak berarti otomatis selama itu merasa hina, bukan, hanya saja mungkin belum ada atau sudah lupa momen-momen yang membuat bangga itu. Apakah cerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan membuat bangga sebagai warga negara Indonesia, entahlah aku tak yakin. Dan selama itu pula, rasanya kurang sekali bersyukur karena menjadi orang Indonesia dan tinggal di sana. Anehnya perasaan itu baru benar-benar muncul setelah tinggal sementara di negeri orang, yang jauh berbeda baik letak, suasana, maupun budaya.

Memang betul kalau manusia memang suka lupa bersyukur atas banyak sekali nikmat yang ada sampai ia tak lagi merasakannya. Namun, pindah sebentar ke negeri orang tak serta merta memunculkan rasa bangga itu, ia baru muncul setelah bergaul dan berbagi cerita dengan saudara-saudara baru di sini. Kata orang negeri-negeri di Eropa itu indah, nyaman, canggih, teratur, dan berbagai pujian lainnya. Mungkin memang ia, keliatannya seperti itu, khusus di Amsterdam bisa terbilang indah bangunannya, nyaman suasananya, canggih fasilitas-fasilitasnya, teratur administrasinya, walaupun mungkin bukan yang paling, tapi setidaknya lebih dari Indonesia secara umum. Tapi jujur, aku tak terlalu memperhatikan hal-hal itu, entah kenapa tak terlalu menarik bagiku menikmati keindahan dan kecanggihan kota, lebih menarik dan lebih perlu adalah berjumpa saudara-saudara dan teman baru. Kalau untuk menikmati keindahan kota, aku mungkin bisa datang berjalan-jalan sebentar suatu saat nanti, seperti halnya orang-orang kaya yang liburan keliling Eropa haha, tapi bertemu dan bersahabat dengan saudara-saudara baru, tentu perlu waktu. Kenapa aku bilang bahwa berjumpa saudara-saudara baru itu lebih perlu? Ya, tentu saja selain punya teman baru, bisa saling membantu, dan yang paling penting, ini Eropa kawan, negara bebas, kalau tak pandai-pandai jaga iman bisa terpeleset kawan. Alasan terakhir ini yang paling penting, mendapatkan saudara-saudara yang sholeh merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan sebagai bentuk penjagaan atas diriku. Dan Alhamdulillah dengan berbagai cara yang unik, aku bertemu dengan banyak saudara-saudara yang sholeh di sini.

Hei, mana bagian bangganya? haha.. iya kepanjangan, ga sampai-sampai ke inti ceritanya. Bagian bangga dimulai ketika bercerita dengan saudara-saudara di sini, yang kebanyakan adalah warganegara Belanda, walau keturunan macam-macam. Mereka mengatakan lebih baik di Indonesia daripada di sini, dan menyarakankan agar aku tidak terus tinggal di sini. Mereka sendiri berkeinginan untuk tinggal di Indonesia. Aneh bukan? Ya, awalnya, tapi akhirnya aku sadar, mereka sangat mementingkan untuk menjaga iman dari pada sekedar keindahan dan kecanggihan semu di sini. Tinggal di sini sungguh tak mudah kawan, tak mudah untuk menjaga pandangan dan iman, tak mudah untuk selalu sholat di masjid kawan. Di musim panas ini kan kau dapati orang berbikini di tengah hari di pinggir jalan kawan, atau pakai rok mini berbelah dada naik sepeda kawan, bahkan berjemur seksi di bawah apartemen terpampang dari jendela kamarmu kawan, sungguh tak mudah jaga pandangan dan iman bukan. Pemandangan itu hadir tanpa kau usaha untuk mencarinya kawan, bahkan susah untuk kau hindari kalau naik sepeda karena bahaya kawan (ingat pilem Negeri 5 Menara). Masjid walaupun ada tapi tak sebanyak di Indonesia kawan, dan jangan kau harap dengar suara Adzan, kalau kau tak lihat jam, pasang alarm, foto jadwal sholat, kau kan terlambat kawan. Di kantor-kantor juga tak ada mushola apalagi masjid seperti di Indonesia, bayangkan kawan, perjuangan muslim di sini menjaga dan menegakkan agamanya kawan. Itulah mengapa mereka suka dengan Indonesia walau kata orang negaranya tak seindah, tak senyaman, tak secanggih, tak seteratur negara-negara di sini, tapi kau kan lebih mudah beribadah dan menjaga iman dan agamamu kawan. Jadi bersyukurlah, bersyukur karena tinggal di Indonesia, negara aman tenteram tidak dalam perang, beribadah mudah masjid di mana-mana, pemandangan dan fitnah tidak sekejam di sini.


Demi Nama Baik Agama dan Bangsa

Ini tulisan pertama setelah banyak hal yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Yup, sekarang statusku sudah tidak single (baru di FB, di KTP belum berubah), dan sekarang sudah bukan pengajar lagi tapi pelajar, dan tinggal di benua yang berbeda. Terkadang waktu terasa berlalu dengan monoton kadangkala terlalu dinamis. Dan aku sedang dalam kondisi yang sangat dinamis, bagaimana tidak, 1 bulan kuliah sudah ujian, dan 2 project sudah menanti. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kawan, kali ini sesuatu yang lebih besar, bukan tentang aku, tapi tentang bangsa dan agama.. haha.. Sepertinya kalimat terakhir agak aneh, lebih tepatnya lebay.. 🙂

Judul tulisan ini terinspirasi dari kisahku yang awalnya tinggal sendirian di apartemen, namun 2 minggu kemudian datanglah seorang teman yang mengisi kamar sebelah, kemudian tiba-tiba saja kalimat ini pun terpikirkan dengan sendirinya.

Demikianlah ceritanya. End.

Behind the scene…

Saat pertama sampai di apartemen, hati sudah dag-dig-dug, kira-kira teman apartemennya welcome ga ya, secara udah tau kalau di apartemen ada 2 kamar tidur, jadi mungkin sudah ada yang di sana. Ternyata eh ternyata, saat masuk ke dalam apartemen, semuanya keliatan bersih, yang menunjukkan bahwa belum ada penghuninya. Setelah satu harian di apartemen, aku yakin, memang sepertinya baru aku sendiri. Awalnya senang, karena menguasai semua fasilitas sendirian, tapi lama-lama kesepian juga. Saat sendiri, biasanya sebelum makan harus cuci piring dan peralatan masak dulu… yang artinya kalau sudah makan ga dicuci dulu, tapi dibiarkan aja sampai waktu makan berikutnya.. Malasnya aku. Barang-barang ditarok di berbagai tempat, di atas meja makan, meja belajar, kursi dll.

2 minggu kemudian…

Pulang dari rumah teman, tiba-tiba kulihat ada yang aneh dengan dapur, ternyata ada pertambahan jumlah barang yang jelas bukan punyaku.. Jeng Jeng, berarti ada orang, siapakah dia? Tak lama kemudian, bertemulah aku dengan sosok itu, ternyata orang dari negeri matador. Awal pertemuan yang baik, dan aku langsung meminta maaf karena dapurnya yang agak berantakan.

Hari-hari setelah awal pertemuan di atas..

Setiap makan langsung cuci piring dan peralatan masak, bersihin kompor. Kalau habis gunakan kamar mandi langsung dirapiin, dan dikeringin kalau ada air yang menetes-netes, dilap westafel*nulisnya gimana-nya, jadi serba bersih dan rapi. Kenapa begitu? Saat aku cerita ke isteriku, aku bilang, ini demi menjaga nama baik Agama dan Bangsa. Aku tidak ingin orang bukan islam, bahkan dia tak beragama, mendapat kesan bahwa ternyata orang Islam itu jorok, atau juga ternyata orang Indonesia itu menjijikkan… haha.. That’s it. Setidak-tidaknya walaupun aku tidak bisa mengangkat martabat agama dan bangsaku di mata dia, minimal aku tidak menjatuhkannya..

Mungkinkah ? Ketika berhadapan dengan orang yang sama sekali tidak mengenal, tertarik, bahkan mungkin sudah terprovokasi dengan berita buruk tentang Islam atau apapun dimana kita berafiliasi dengannya, sebuah sikap sederhana lebih baik dari banyaknya kata-kata? Mungkinkah itu disebut sebagai salah satu cara menyampaikan pesan kebaikan?


Mari Bersihkan Harta

“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas untuknya”

Begitulah bunyi sebuah hadits sahih mengenai hukum memakan harta yang haram, sungguh mengerikan, namun terkadang luput dari perhatian kita. Semoga kita selalu bersungguh-sungguh untuk menjaga harga kita dari sesuatu yang haram.

Ada sebuah kisah mengenai dampak dosa memakan sesuatu yang bukan haknya. Kisah ini menunjukkan bahwa setiap dosa yang dilakukan seseorang akan berdampak pada dirinya, bahkan terkadang dampak tersebut berdasarkan dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Sebuah kisah mengenai seorang pemuda sholeh yang semenjak kecil hidup di lingkungan orang sholeh, orang tuanya pun mendidik yang baik dan menyuruh selalu beribadah. Sehingga boleh dikatakan dia tidak mengenal maksiat seperti yang banyak dilakukan oleh pemuda lainnya. Namun ada satu hal yang menjadi keluh kesahnya selama ini, dan masih belum ia temukan jawabannya, yaitu ia tidak bisa khusuk setiap melaksanakan sholat.

Sekian lama ia mencari jawaban belum juga ketemu, hingga akhirnya dia membaca hadits di atas. Kemudian dia pun menemui orang tuanya dan menanyakan apakah selama ini pernah memberikan makan dari harta yang haram? Orang tuanya menjawab tidak pernah. Dia bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama, begitu juga orang tuanya, masih dengan jawaban yang sama yaitu tidak pernah. Tapi kemudian, ibunya menyela dan berkata bahwa dulu waktu sang ibu sedang hamil, pernah ada orang yang menitipkan susu kepadanya. Lalu, ia melihat ada tetesan susu yang mengalir di luar botol tersebut, karena ia sudah lama tidak minum susu, maka dijilatinya tetesan tersebut. Mendengar cerita tersebut, si anak pun bertanya mengenai siapa orang yang menitipkan susu tersebut, lalu dia pun mendatangi orang tersebut.

Setelah bertemu dengan orang yang menitipkan susu tersebut, sang anak pun bertanya apakah benar dia yang dulu pernah menitipkan susu kepada seorang ibu, dan orang tersebut mengingat-ingat dan menjawab benar. Lantas si anak tersebut menceritakan kisahnya, dan meminta agar orang tersebut merelakan tetesan susu yang dijilati sang ibu. Orang itu tertawa dan mengatakan bahwa, kalau cuma tetesan susu tersebut kenapa mesti minta izin? Kalau minta juga sudah pasti di kasi, keterlaluan jika tetesan susu diluar botolpun ia tidak rela. Namun setelah akhirnya dia pun menyampaikan kerelaannya secara lisan. Setelah itu, barulah si anak merasa bisa khusyuk dalam sholatnya.

Dari cerita tersebut, bisa dibayangkan bahkan hal kecil yang kita anggap sangat sepele dan tidak ada artinya itu pun bisa mendatangkan dampak buruk bagi seseorang, bahkan yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain. Namun tetap saja, pada saat ibu itu dulu menjilat tetesan susu tersebut, tetesan itu bukan miliknya dan dia belum meminta izin kepada yang berhak. Lantas bagaimana dengan keharaman yang lebih jelas dan lebih besar?

Setiap perbuatan dosa akan mendatangkan dampak buruk, namun terkadang kita tidak bisa menyadari dampak suatu perbuatan dosa tersebut. Hal ini bergantung kepada kondisi hati, jika hati kita bersih maka sedikit saja perbuatan dosa akan terasa dampaknya, jika hati sudah sangat kotor maka akan susah merasakan dampak suatu dosa. Ibarat penyakit, orang yang tubuhnya masih sehat, mendapat suatu penyakit ringan saja akan langsung terasa, namun orang yang ditubuhnya sudah bersarang banyak sekali penyakit tidak akan terasa jika tubuhnya mendapat penyakit lain.

Untuk itu, marilah kita menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Khusus mengenai harta yang haram, marilah kita menjaga dan membersihkan harta kita agar terhindar dari segala sesuatu yang haram.

Pastikan harta di dapat dari jalan yang benar, bukan hasil mencuri, korupsi, dan jalan haram lainnya.

Hati-hati terhadap riba,

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (karena sama-sama melakukan yang haram)” (HR. Muslim no. 1598).

Yang terakhir, jangan lupa berzakat, berinfaq, dan bershodaqoh.

Mari Bersihkan Harta…


Tidak Beriman Seorang Muslim

Setiap muslim rasanya tentu ingin dikatakan beriman. Kalau dikatakan tidak beriman mungkin seseorang bisa tersinggung dan marah, karena iman memang sesuatu yang sangat berharga bagi seorang muslim. Tapi terkadang kita lupa untuk menata sikap sebagaimana orang beriman yang dijelaskan oleh rasulullah. Untuk itu saya coba paparkan beberapa hadits mengenai sikap orang beriman.

Hadis riwayat Anas bin Malik r.a. ia berkata:Rasulullah bersabda: Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang. (HR Muslim)

Abdullah bin Umar r.a mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari)
Read the rest of this entry »


Pesantren Sebagai Solusi Perbaikan Moral Bangsa

Melanjutkan postingan sebelumnya, yaitu islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin namun kenyataannya moral bangsa Indonesia sekarang tidak bisa dibilang bagus, maka saya ingin paparkan sebuah solusi, yaitu “Pesantren”.

Pesantren adalah sebuah institusi pendidikan yang fokus pada pembelajaran dan praktek ilmu Islam. Di pesantren para santri diajarkan ilmu islam mulai yang paling dasar yaitu aqidah sampai kepada ilmu praktis seperti fiqih. Santri dibina agar memiliki aqidah yang lurus dan akhlak yang baik, yang merupakan bekal penting agar selamat menjalani kehidupan di dunia ini.

Berbagai tindakan tak bermoral yang dilakukan oleh manusia adalah karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang agama, bahkan bisa jadi mereka hanya pernah belajar agama yaitu di sekolah, yang hanya 2 jam seminggu. Bisa dibayangkan porsi ilmu agama apa yang akan mereka dapat jika hanya mengharapkan dari sekolah? Nyatanya, inilah yang banyak terjadi. Terkadang sampai dewasa pun membaca Al-Qur’an masih terbata-bata, terhadap kitab suci saja begitu, bagaimana dengan ilmu agama yang lain? Bagaimana seseorang bisa mengetahui hal-hal yang dilarang dan diperintahkan ALLAH, kalau ia tak pernah mempelajarinya?
Read the rest of this entry »


Islam Adalah Agama Rahmatan Lil ‘Alamin

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim, “Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”. Burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan dibunuh dan dilempar. Sungguh begitu indahnya Islam itu bukan? Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang, apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, sekali lagi, terbanyak di dunia. Maka melihat keterangan di atas, seharusnya Indonesia menjadi negara yang indah, damai, dan beradab. Tapi lihat saja kenyataannya, kita tidak bisa menutup mata dan telinga dengan pemberitaan sehari-hari yang mengabarkan tentang kisah-kisah menyedihkan dan tak beradab. Mulai dari anak-anak yang melakukan pencabulan, berjudi, menghisab sabu. Remaja tawuran antar sekolah, kumpul kebo, menjadi pengedar, minum-minuman keras. Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarga sendiri, membunuh karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam ini keluar di pemberitaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana moral mereka? Bukankah sebagian besar dari mereka adalah muslim? Bukankah orang muslim seharusnya menjadi rahmatan lil ‘alamin?
Read the rest of this entry »