Perjalanan Menyaksikan Aktualisasi Cinta 2 Manusia

Tulisan ini dibuat selagi dalam perjalanan dari Bandung menuju Surabaya dengan kereta Argo Wilis. Tujuan perjalanan ini adalah menghadiri undangan pernikahan dua orang sahabat yang bertempat di Bondowoso. Dari namanya sudah terdengar asing, tentu jauh 😀 Yap, cukup jauh, total dibutuhkan 17 jam perjalanan untuk sampai ke Bondowoso.

Sambil menikmati perjalanan, melihat ke luar kereta dari jendela di sisi kanan, aku mengingat-ingat kembali sudah berapa banyak perjalanan ke luar kota yang kutempuh dengan tujuan serupa, yaitu menghadiri acara pernikahan teman. Aku lupa urutannya mana yang dulu, tapi kuusahakan menuliskannya terurut, bahkan mungkin masih ada yang terlupakan.

Pertama adalah menghadiri pernikahan mas Bijak Fajar Putranto seorang teman, senior sekaligus ketua organisasi tempat aku berkecimpung selama kuliah dulu. Bertempat di Depok, di masjid kubah Emas. Lalu mas Tamami Effendi, seorang teman yang menikah dengan temanku juga Anita Kusumaningtyas, bertempat di Jogjakarta, tepatnya di Gunung Kidul. Selanjutnya konvoi sepeda motor bersama rekan-rekan dosen Politeknik Telkom menuju Cianjur untuk menghadiri pernikahan Hendra Setiawan, teman mengajar di Poltek Telkom. Ada lagi perjalanan menuju Lampung dalam rangka menghadiri teman satu kosan, Wiandi Fazzar. Perjalanan yang cukup jauh, menghabiskan waktu sekitar 10 Jam, tapi mengasyikkan. Masih ada lagi, yaitu bersama rombongan Dosen ITTelkom menghadiri pernikahan Mba Rita Rismala yang juga rekan dosen yang bertempat di Ciamis. Terakhir sebelum perjalanan ini adalah menghadiri pernikahan Mas Faqih yang bertempat di Tangerang. Dan yang sedang dijalani sekarang adalah menuju pernikahan Mba Untari dan Mas Chafid, yang keduanya ada temanku. Jadi total kira-kira sudah mengunjungi 7 kota berbeda untuk menghadiri pernikahan teman-temanku. Tentunya jumlah pernikahan teman yang kukunjungi lebih dari itu, karena yang mengadakan acara di Bandung tidak dihitung 😀 Sungguh, melihat raut wajah teman yang berbinar-binar karena bahagia selalu membuatku turut bahagia. Semoga selalu menjadi keluarga yang berada dalam hidayah, rahmat, dan lindungan Allah SWT.

Oh ya, masih ada satu yang terlewat, yaitu yang lebih dulu dari Mas Bijak, yaitu Mas Erfan Fiddin yang melaksanakan acara pernikahan di Jakarta. Waktu itu perginya menggunakan Bus bersama teman-teman. Jadi total jumlah kotanya nambah 1 jadi 8 kota. Kira-kira selanjutnya kota mana lagi ya? Ayo-ayo mana lagi undangannya? Semoga diberi rizki dan kesempatan untuk bisa menghadiri hari bahagia teman-teman semua.

Hmm, edit lagi, Cimahi itu luar kota Bandung bukan? Kalau itu di hitung luar kota, berarti nambah 1 kota lagi yang sudah kukunjungi, jadi 9. Di Cimahi ada 2 pernikahan, yaitu Bayu Rimba dengan Teh Rani, dan Isa Albana dengan Eka mardila. Semoga berbahagia kawan.


Menjadi lilin dan cermin

Someone asked me, can we become a candle and also a mirror? May be this has something to do with this post. I was confused, I talked about candle but there is no mirror word in that post. So, I was trying to think like a philosopher, finding a very deep meaning in every word. Haha.. No, actually this answer just came to my mind just like that.

I want to analogize candle as sun, and mirror as moon. I think this is appropriate to the meaning of the question. Candle and sun produce light, while mirror and moon reflect the light. Next, can human become a sun and also a moon? Actually this question is absurd, there is no way that human can transform to be a sun or a moon, but this is question of philosopher :D.

Menurutku kita memang seharusnya menjadi matahari dan juga bulan. Jika kita lihat lagi, matahari tidak menyinari kita setiap saat, ia bergantian dengan bulan. Meskipun bulan hanya memantulkan cahaya yang dihasilkan oleh matahari, tapi keduanya sama-sama memberikan cahaya yang indah menyindari bumi. Begitu juga manusia, mungkin kita tidak bisa setiap saat membuat sesuatu yang bermanfaat yang murni berasar dari kita sendiri, tapi kita bisa membantu orang lain untuk menyebarkan manfaat, yang pada akhirnya membuat kita bermanfaat. Jadi, tidak peduli yang menghasilkan cahaya itu adalah matahari, selama bulan mampu menyinari bumi, itu tidak mengubah fakta bahwa bulan pun indah dan mengagumkan. Tidak peduli dari siapa ide atau siapa yang membuat pertama kali sesuatu yang bermanfaat, selama kita juga membantu menyebarkannya maka kita sebenarnya telah bermanfaat.

Last but the most important thing to be realized is all lights come from one and only source, Allah the almighty creator.


Decision is yours

Sebenarnya setiap apa pun yang terjadi selalu bisa ditanggapi dengan berbagai respon, dan kitalah yang menentukan jenis respon yang ingin kita gunakan. Ketika orang yang sangat kita cintai melanjutkan perjalanannya ke alam yang lain, kita bisa sedih namun kita juga bisa senang. Ketika kita dibikin kesal oleh seseorang atau sesuatu, kita bisa marah atau kita juga bisa bersabar. Ketika kita ditabrak dan luka memar, kita bisa marah namun kita juga bisa bersyukur. Ketika murid membandel, kita bisa cuek atau kita juga bisa termotivasi untuk merubah. Ketika sesuatu yang diinginkan belum tercapai, kita bisa putus asa namun kita juga bisa memilih untuk lebih gigih berusaha. Kalau dipersempit, jenis respon-respon yang bisa kita pilih bisa digolongkan ke dalam dua kategori yaitu positif dan negatif.

You know that every response we choose is our decision, our responsibility, and will affect ourselves(may be others too). But the point is We not They. So, actually other people will never make us become a worse person until we “decide/agree” to be worse, and so does with to be a better person.

Ketika kita marah, mungkin kita merasa benar untuk marah, berhak untuk marah, karena memang mereka yang salah. Tapi sadarkah kita bahwa marah dengan nafsu tidak membuat kita lebih baik, bahkan sebaliknya? Marah membuat kita mudah mengeluarkan kata-kata kotor, mengungkap berbagai kejelekan orang lain, membuat kelakuan menjadi tidak terkontrol, yang pada akhirnya mempermalukan diri sendiri. Apakah orang yang kita marahi menjadi pribadi yang lebih buruk? Belum tentu, sekali lagi tergantung bagaimana ia menanggapinya. Bagaimana kalau kita ganti marah dengan sikap sabar, berfikir positif, mencari alasan-alasan positif, memaklumi, tentu akan menjadikan kita lebih baik, lebih tenang, berfikir lebih jernih, dan akhirnya mengangkat harga diri kita sendiri.

Tapi tahukan anda bahwa memilih antara dua pilihan tersebut tidak mudah? Setidaknya begitulah menurutku. Ia perlu dilatih, dilatih, dan dilatih. Ia perlu terus difikirkan bahwa kita ingin memilih respon dari kategori positif, terus fikirkan. Setiap ada kejadian apapun, ingat bahwa kita sedang latihan, latihan memilih respon positif, terus begitu, sehingga jika telah terbiasa maka secara otomatis kita akan selalu memilih respon positif.

I was inspired to post this because of my journey to Jakarta yesterday. Aku pulang dengan tangan hampa, karena berkasku tidak ditemukan, padahal itu adalah berkas kedua yang ku serahkan. Tapi Alhamdulillah, jadi dekat sama mas-mas dan mba-mba yang ngurusin. Bahkan di ajak masuk ke ruangan, ngobrol, becanda, dan diajak nonton James Bond (tapi ga mau, karena mau pulang Bandung), dan dikasi tau bahwa nanti akan ditelpon tentang kabar berkasnya. Kalau saja kemaren aku pasang muka kesel duluan, tentu sikapku tidak akan ramah kepada mereka, dan mereka pun tidak akan ramah padaku. Dan setelah aku masuk ruangan, aku tahu bahwa mereka sangat sibuk sekali. Tidak ada yang santai-santai, mereka tampak stress karena load kerjaan yang mereka handle. Sampai jam 12.30 pas aku pamit pulang, mereka belum juga istirahat, masih membuat surat, mencari ini itu, dan sebagainya. Dan satu lagi, isi ruangan kerja mereka penuh dengan tumpukan berkas di mana-mana. Sampai-sampai aku sempat bercanda dengan salah satu petugas, kira-kira kalau diloakin semua dapat beli apa ya? Dapat beli motor kata mas-masnya.. 😀

Jadi, walaupun pulang dengan tangan kosong, alhamdulillah hatiku tak sekosong tanganku. Aku senang, akhirnya bisa memilih respon positif. Semoga berhasil di kejadian-kejadian berikutnya.

Mari berlatih memilih respon positif.


Ungkapan Cinta

Manusia memang sulit untuk melepaskan diri dengan yang namanya cinta, ingin mencintai dan dicintai. Mungkin memang begitulah fitrah manusia. Khusus cinta kepada sesama manusia pun demikian, cinta anak kepada orang tua, cinta guru kepada muridnya, cinta adik kepada kakaknya, dan berbagai hubungan cinta lainnya, yang tentunya bukan cinta terlarang 😀

Dalam hubungan cinta, tak jarang kita melakukan sesuatu sebagai bentuk ungkapan cinta kepada yang dicintai. Mulai dari yang paling sederhana, seperti tersenyum, memberi hadiah, membantu melakukan sesuatu, sampai pada yang sangat berat seperti mengorbankan hal-hal yang disenangi, bahkan mungkin berkorban nyawa sekalipun. Banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai bentuk ungkapan cinta kepada yang dicintai.

Namun ada satu bentuk ungkapan yang sangat sederhana, gratis, mudah, namun menurutku tergolong bentuk ungkapan cinta paling murni, paling hakiki, paling tinggi, ia adalah Do’a. Mendo’akan orang yang dicintai dengan tulus rasanya adalah bentuk ungkapan cinta paling murni, tanpa ingin diketahui, tanpa harapkan balasan dari yang dicintai, namun sarat akan makna di atas keyakinan akan kebesaran Tuhan. Mendo’akan agar orang yang dicintai senantiasa mendapatkan hidayah, rahmat, kebahagiaan, dan lindungan dari Tuhannya, apalagi pemberian yang bisa melebihi itu? Nothing.

Let’s pray for those we love, for mom, dad, and others.


The Greatest Mother/Woman?

Entah kenapa tiba-tiba terlintas di fikiran tentang sosok seorang ibu. I’m very sure that my mother is great with all of the capacity and limitations that she has. I have no doubt about that. But nobody is perfect, right? And actually that is a kind of human’s perfection. There is always a space for improvement.

Setiap orang mungkin punya pendapat tersendiri tentang sosok ibu, ibu yang hebat, ibu yang keren, ibu terbaik. For me, I have a simple criteria. Bagiku the greatest mother adalah setiap wanita yang mendedikasikan dirinya secara penuh untuk keluarga, untuk suami dan anak-anaknya, padahal ia punya segudang potensi dan kapasitas  untuk bisa sukses berkarir di luar rumah. Artinya, wanita ini telah mengalahkan egonya, menepis kenyataan bahwa ia berpendidikan tinggi, mengacuhkan kenyataan bahwa ia cerdas, menampik anggapan bahwa seolah-olah ia wanita lemah yang tidak mandiri, dan akhirnya mau bersahaja berdiam di rumah untuk  mengurus keluarga, suami dan anak-anaknya. Amazing *kata om Tukul.. Wanita seperti ini sungguh luar biasa, wanita seperti ini pasti sangat mengerti bahwa kehidupan yang pas-pasan bukanlah suatu bencana, tapi keluarga yang berantakan, kegagalan mendidik anak, itulah bencana sebenarnya. Hidup yang pas-pasan jika dimaknai dengan benar tentu bukanlah hal yang luar biasa. Tapi percayalah, bahwa Allah telah menyiapkan rezeki untuknya, dan untuk anak-anaknya dari berbagai jalan yang indah.

Anak adalah investasi dan Amanah dari Allah SWT. Investasi jangka sangat panjang, dunia dan akhirat. Amanah yang bukan sembarang amanah, ia bisa menjadi kebaikan namun juga bisa menjadi malapetaka bagi orang tuanya. Nah kalau sudah begitu, tentu bukan hal yang mudah dan biasa-biasa saja dalam mengurus anak. Bahkan orang tua berpendidikan S3 pun tidak berguna kalau tidak ada waktu mendampingi anak-anaknya. Bukankah bercengkrama dengan anak-anak, mendampingi, menanamkan nilai-nilai kebaikan  adalah bagian indahnya berkeluarga? Beruntunglah orang yang menemukan sosok the greatest mother dalam diri istri atau ibu mereka.

Teringat sebuah cerita, bahwa ada seorang wanita kantoran bersuamikan seorang yang bekerja menjual makanan keliling. Boleh dikatakan pendapatan istrinya cukup, bahkan masih cukup kalaupun suaminya tidak bekerja. Namun suatu hari ia memutuskan untuk berhenti bekerja, padahal suaminya tidak pernah melarang ia bekerja. Ternyata ada cerita di balik keputusan anehnya tersebut. Suatu hari sang istri pulang dalam keadaan sangat lelah karena banyaknya kerjaan di kantor. Sang suami minta untuk dibuatkan teh hangat (kalau tidak salah) karena ia juga lelah dan merasa kurang sehat. Namun karena sang istri kelelahan, ia pun tertidur sebelum sempat membuatkan permintaan suaminya. Keesokan harinya ia dapati baju-bajunya telah selesai dicuci, dan ia juga dapati ternyata suaminya demam tinggi. Saat itu sang istri merasa sangat bersalah, merasa sangat berdosa, mengabaikan permintaan suaminya, dan membuat suaminya mencuci pakaian mereka (walau dengan keinginan suaminya sendiri), padahal sang suami sedang dalam keadaan sakit. Akhirnya dia langsung memutuskan untuk berhenti bekerja, dan hanya di rumah melayani suaminya. Alhamdulillah setelah beberapa waktu, pekerjaan suaminya semakin baik, pendapatannya pun semakin besar sehingga mencukupi kehidupan mereka. Subhanallah..

That’s my simple criteria of the greatest mother. yours?


Mari bersihkan hati

“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Agar komputer dapat bekerja dengan baik, maka harus dipastikan agar system file tetap aman, terhindar dari gangguan dan serangan virus. Untuk itu perlu secara rutin cleaning untuk membasmi segala virus yang jadi parasit. Namun, agar virus bisa dibersihkan, tentu sebelumnya anti virus harus bisa mendeteksinya terlebih dahulu. Anti virus yang baik adalah yang mampu mengenali berbagai jenis virus, terutama yang terbaru. Oleh karena itu, knowledge anti virus harus terus menerus diupdate agar up to date dengan jenis virus terbaru. Begitulah kira-kira mekanisme menjaga agar komputer dapat berjalan dengan baik.

Kalau manusia dianalogikan dengan komputer, maka system file adalah Qalbu. Qalbu harus selalu dijaga agar tetap bersih sehingga tingkah laku manusia bisa berada dijalur yang benar. Qalbu harus selalu dibersihkan dari segala kotoran dan penyakitnya. Agar bisa membersihkan Qalbu, maka perlu dilakukan scanning untuk mendeteksi kotoran dan penyakit tersebut secara akurat. Agar proses scanning berjalan sukses, maka knowledge tentang kotoran dan penyakit hati harus selalu diupdate.

Dari hadits di awal, dapat diketahui bahwa hati adalah kunci atas segala tindak tanduk manusia, maka sudah selayaknya ia mendapat perhatian lebih dan perlakuan khusus agar bisa terhindar dari segala kotoran dan penyakit.

Mari luangkan waktu untuk mengurus hati, hati, dan hati.. Selalu tanyakan bagaimana keadaan si hati sekarang? Apakah ia sehat? Sakit apa kira-kira? Bagaimana mengobatinya?

Mari bersihkan hati.


Let’s stop cursing

“It’s better to light a candle than curse the darkness”

Ada banyak hal yang berpotensi mengganggu konsentrasi, menurunkan semangat, serta menghilangkan keikhlasan dalam berkarya, salah satunya adalah kebiasaan mengutuk pada kegelapan. Jika direnungkan lebih jauh, mengutuk kegelapan bukanlah hanya sekedar perbuatan tidak berguna, tapi jauh lebih berbahaya dari itu. Kebiasaan mengutuk akan melemahkan segala usaha dan menghabiskan energi yang seharusnya digunakan untuk menghidupkan lilin, juga mengganggu konsentrasi, melemahkan tekat, keikhlasan serta totalitas. Mengutuk membuat kita memberikan excuse atas segala kekurangan dan kegagalan, dan tidak merasa bersalah atas kekurangan dan kegagalan itu. Mengutuk hanyalah membuat kita meng-underestimate kemampuan dan mengubur potensi besar diri sendiri.

Rasanya pohon yang berhasil tumbuh berbuah dengan tertatih dari tanah tandus tercemar, lebih bermakna dan menginspirasi dari pada yang berhasil tumbuh dari tanah subur, dipupuk dan dipelihara.

Let’s stop cursing and light more and more candles..