Sekolahnya Ibu

Salah satu rutinitas di kampus adalah makan siang di pantry. Sebenarnya ini rutinitas yang tidak sekedar makan, makanya terkadang walaupun lagi ga makan tetap menyempatkan ke pantry untuk ketemu dosen-dosen lain terutama yang ruangannya di gedung yang berbeda. Banyak sekali cerita, pengalaman, candaan, tips dan trik yang di share para dosen, terutama dosen senior, mengenai berbagai hal tentang kehidupan.  Jadi ini momen yang sayang sekali untuk dilewatkan.

Kali ini yang membuatku ikutan mikir adalah mengenai sekolah anak, tepatnya Sekolah Dasar alias SD. Ada dosen yang sedang dilema, minta pendapat ke dosen-dosen lain, mengenai sekolah mana yang bagus untuk anaknya. Sepertinya perihal sekolah ini cukup memusingkan ibunya, padahal kalau di kampungku dulu, masuk sekolah mau TK, SD, sampai SMA tak pernah dilema, karena pilihannya sangat-sangat terbatas *tidak perlu disebutkan jumlahnya berapa 🙂 Tapi di kota sebesar Bandung ini, ada sangat berlimpah ruah pilihan yang ditawarkan, Negeri, Swasta, Sekolah Alam, Sekolah Inklusi, dan lain sebagainya. Orang tua tentu ingin mencari sekolah terbaik untuk anaknya, seperti terbaik dalam hal perkembangan intelligent, attitude, dan dari sisi agama. Namun, sekolah yang katanya punya kualitas bagus biayanya juga sangat bagus, bahkan uang masuknya saja bisa lebih mahal dari uang masuk kuliah. Uang bulanannya bisa lebih dari UMP Jakarta. Duh duh duh.. Kalau begini, sepertinya akan jarang orang tua yang mementingkan pendidikan berani punya anak banyak, katakanlah lebih dari 5, jika tidak benar-benar berlebih secara finansial. Jika punya anak 10 misalnya, katakanlah gaji 20 juta/bulan, rasanya masih sangat sulit untuk menyekolahkan semuanya di sekolah yang bagus dengan biaya mahal tersebut.

Lantas, bagaimana kalau tetap ingin punya anak banyak meskipun orang tua tidak kaya-kaya amat secara finansial? Hmm.. Mari kita melakukan sedikit analisa kasar. Sekolah yang sebagus apapun kualitasnya, dalam satu kelas rasanya pasti jumlah muridnya lebih dari 10. Yang mengajar tiap materi rata-rata 1 orang guru. Artinya 1 orang guru mampu menghandle 10-20 anak dengan baik, dengan perhatian yang cukup kepada setiap anak. Lantas, bagaimana kalau kemampuan guru tersebut dipindahkan ke seorang ibu di rumah? Hmm.. bisa jadi dia juga bisa menghandle 10 anak dengan baik. Jadi, mungkin solusi yang terpikirkan adalah lebih baik menyekolahkan seorang ibu sehingga punya kemampuan yang baik dalam menghandle anak, kemudian anaknya dimasukkan ke sekolah biasa saja, tapi selama di rumah peran guru diambil alih oleh si ibu. Si ibu akan membimbing anak-anaknya dengan perhatian penuh dalam berbagai hal yang mungkin kurang didapatkan dari sekolahnya 🙂 Jika guru di sekolah mahal bisa memberikan yang terbaik untuk anak muridnya yang sebenarnya bukan anak-anaknya, maka seharusnya seorang ibu bisa memberikan yang terbaik dari yang terbaik untuk anak-anaknya, darah dagingnya, kebanggaan hatinya, investasinya di dunia dan akhirat 🙂

Mungkin masih banyak yang bisa ditentang dari ide ini, misalnya sekolah bagus tidak hanya punya guru yang bagus, tapi infrastruktur bagus, alat pendukung yang bagus, lingkungan yang bagus, dan lain-lain, tapi menurutku yang paling utama dalam pendidikan anak seukuran SD bukanlah intelligent, tapi tauhid, akhlak, mental, sikap dan cara pandangnya terhadap dunia dan segala permasalahannya, dan yang terbaik yang bisa dan harusnya mengajarkan ini semua tentunya adalah ayah dan ibunya.

This is just an idea 🙂


Ungkapan Cinta

Manusia memang sulit untuk melepaskan diri dengan yang namanya cinta, ingin mencintai dan dicintai. Mungkin memang begitulah fitrah manusia. Khusus cinta kepada sesama manusia pun demikian, cinta anak kepada orang tua, cinta guru kepada muridnya, cinta adik kepada kakaknya, dan berbagai hubungan cinta lainnya, yang tentunya bukan cinta terlarang 😀

Dalam hubungan cinta, tak jarang kita melakukan sesuatu sebagai bentuk ungkapan cinta kepada yang dicintai. Mulai dari yang paling sederhana, seperti tersenyum, memberi hadiah, membantu melakukan sesuatu, sampai pada yang sangat berat seperti mengorbankan hal-hal yang disenangi, bahkan mungkin berkorban nyawa sekalipun. Banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai bentuk ungkapan cinta kepada yang dicintai.

Namun ada satu bentuk ungkapan yang sangat sederhana, gratis, mudah, namun menurutku tergolong bentuk ungkapan cinta paling murni, paling hakiki, paling tinggi, ia adalah Do’a. Mendo’akan orang yang dicintai dengan tulus rasanya adalah bentuk ungkapan cinta paling murni, tanpa ingin diketahui, tanpa harapkan balasan dari yang dicintai, namun sarat akan makna di atas keyakinan akan kebesaran Tuhan. Mendo’akan agar orang yang dicintai senantiasa mendapatkan hidayah, rahmat, kebahagiaan, dan lindungan dari Tuhannya, apalagi pemberian yang bisa melebihi itu? Nothing.

Let’s pray for those we love, for mom, dad, and others.


The Greatest Mother/Woman?

Entah kenapa tiba-tiba terlintas di fikiran tentang sosok seorang ibu. I’m very sure that my mother is great with all of the capacity and limitations that she has. I have no doubt about that. But nobody is perfect, right? And actually that is a kind of human’s perfection. There is always a space for improvement.

Setiap orang mungkin punya pendapat tersendiri tentang sosok ibu, ibu yang hebat, ibu yang keren, ibu terbaik. For me, I have a simple criteria. Bagiku the greatest mother adalah setiap wanita yang mendedikasikan dirinya secara penuh untuk keluarga, untuk suami dan anak-anaknya, padahal ia punya segudang potensi dan kapasitas  untuk bisa sukses berkarir di luar rumah. Artinya, wanita ini telah mengalahkan egonya, menepis kenyataan bahwa ia berpendidikan tinggi, mengacuhkan kenyataan bahwa ia cerdas, menampik anggapan bahwa seolah-olah ia wanita lemah yang tidak mandiri, dan akhirnya mau bersahaja berdiam di rumah untuk  mengurus keluarga, suami dan anak-anaknya. Amazing *kata om Tukul.. Wanita seperti ini sungguh luar biasa, wanita seperti ini pasti sangat mengerti bahwa kehidupan yang pas-pasan bukanlah suatu bencana, tapi keluarga yang berantakan, kegagalan mendidik anak, itulah bencana sebenarnya. Hidup yang pas-pasan jika dimaknai dengan benar tentu bukanlah hal yang luar biasa. Tapi percayalah, bahwa Allah telah menyiapkan rezeki untuknya, dan untuk anak-anaknya dari berbagai jalan yang indah.

Anak adalah investasi dan Amanah dari Allah SWT. Investasi jangka sangat panjang, dunia dan akhirat. Amanah yang bukan sembarang amanah, ia bisa menjadi kebaikan namun juga bisa menjadi malapetaka bagi orang tuanya. Nah kalau sudah begitu, tentu bukan hal yang mudah dan biasa-biasa saja dalam mengurus anak. Bahkan orang tua berpendidikan S3 pun tidak berguna kalau tidak ada waktu mendampingi anak-anaknya. Bukankah bercengkrama dengan anak-anak, mendampingi, menanamkan nilai-nilai kebaikan  adalah bagian indahnya berkeluarga? Beruntunglah orang yang menemukan sosok the greatest mother dalam diri istri atau ibu mereka.

Teringat sebuah cerita, bahwa ada seorang wanita kantoran bersuamikan seorang yang bekerja menjual makanan keliling. Boleh dikatakan pendapatan istrinya cukup, bahkan masih cukup kalaupun suaminya tidak bekerja. Namun suatu hari ia memutuskan untuk berhenti bekerja, padahal suaminya tidak pernah melarang ia bekerja. Ternyata ada cerita di balik keputusan anehnya tersebut. Suatu hari sang istri pulang dalam keadaan sangat lelah karena banyaknya kerjaan di kantor. Sang suami minta untuk dibuatkan teh hangat (kalau tidak salah) karena ia juga lelah dan merasa kurang sehat. Namun karena sang istri kelelahan, ia pun tertidur sebelum sempat membuatkan permintaan suaminya. Keesokan harinya ia dapati baju-bajunya telah selesai dicuci, dan ia juga dapati ternyata suaminya demam tinggi. Saat itu sang istri merasa sangat bersalah, merasa sangat berdosa, mengabaikan permintaan suaminya, dan membuat suaminya mencuci pakaian mereka (walau dengan keinginan suaminya sendiri), padahal sang suami sedang dalam keadaan sakit. Akhirnya dia langsung memutuskan untuk berhenti bekerja, dan hanya di rumah melayani suaminya. Alhamdulillah setelah beberapa waktu, pekerjaan suaminya semakin baik, pendapatannya pun semakin besar sehingga mencukupi kehidupan mereka. Subhanallah..

That’s my simple criteria of the greatest mother. yours?